Kamis, 17 Juni 2010
Bapak Maryono
Tak ubahnya pak maryono dari hari ke hari. Tubuhnya selalu terbungkuskan baju koko. Harum tubuh bapak maryono khas aroma pria yang akan pergi jum’atan. Peci yang dikenakannya 4 tahun yang lalu berwarna hitam. Tapi kini sudah memudar, tak ada warna hitam di pecinya. Warna hitam bergantikan oranye ke ungu-unguan.
Ciiiiiiiiiiiiiiiit… suara rem bergesekan besi pada pelk roda di sepeda bapak maryono. Speda pa maryono berhenti di depan plang bertuliskan Masjid Al Barqah. Bapak maryono menyenderkan spedanya ke plang itu. Belum sampai langkah bapak maryono di masjid tujuannya seorang anak kecil memanggil keras namanya. Menyerukan kepada temannya “Pa Maryo!!!”. Kemudian serentak segerombolan anak kecil berjilbab dan berkupiah berlari menyerbu langkah bapak maryono. Anak-anak berlomba menjulurkan tangannya. Bapak Maryono menjulurkan tangannya dan akan-anak itu saling berebutan tangan bapak maryono dan menaruh di pipi mereka.
Bapak maryono adalah seorang pengajar di TPA. Bergurau dengan candaan islami bersama anak kecil sudah menjadi santapan sehari-harinya. Hari ini bapak maryono akan menyampaikan materi sejarah islam di masjid Al Barqah. Anak-anak menyimak kisah Umar Bin Khattab dengan saksama. Mata muridnya tak lepas dari wajah bapak maryono yang antusias menyampaikan kisah Umar Bin Khattab. Dengan semangat bapak maryono meggerakkan tubuh kurus dan mimik wajahnya. Bapak maryono berulang kali menempatkan lirikan matanya ke jam dinding yang menempel di dinding masjid. Berulang kali ia melirik ke dinding itu. Pada akhirnya sore sampai pada pukul 16.30. waktunya untuk bapak maryono mengakhiri kisah sahabat nabi tersebut.
Anak-anak membaca surah Al-asr sebagai pengnutup pertemuan hari ini. anak-anaknya dengan semangatnya sampai-sampai menjerit meneriakkan surah Al-Asr. Satu anak laki-laki meneriakkan paling semangat di pojok ruangan. Bapak maryono hanya menunjuk anak tersebut dan mengayunkan telunjuknya ke bawah. Dan anak itu menurut dan merendahkan suaranya. Kebijakan yang dilakukan bapak maryono adalah salah satu cirri khas dari bapak Maryono. Dia tidak perlu membentak atau pun memukul. Hanya dengan gerak tubuhnya anak muridnya akan tau apa yang bapak maryono perintahnkan.
Saat usai membaca surah Al- asr murid-murid kembali memperebutkan tangan bapa maryono untuk menaruh di pipi mereka. Saat melangkah keluar masjid untuk didik di pinggir dan menaruh lelah dari tubuhnya, anak yang tadi menjerit meneriakkan surah Al-asr paling keras menghampirinya “assalamualaikum!” nadanya menantang. “walaikum salam” jawab bapa maryono dengan nada halus. Anak itu melipat tangannya di dadanya. Wajahnya angkuh dengan dagu terangkat. “mengapa bapa suruh saya diam tadi?” kata anak itu. “bapa tidak menyuruh mu diam. Hanya mengurangi ketinggian suara mu.” Balas bapa maryono dengan nada yang sabar. “tapi saya ingin membaca surah Al- Asr dengan semangat, itu saja. “ katanya. Lalu bapa maryono lagi-lagi menjawab dengan sabar “tapi cara mu itu salah, kamu tau suara apa yang seburuk-buruknya? “ anak itu menggeleng masih dengan tangan terlipat dan dagu yang angkuh. “suara yang membentak, suara yang hanya layak untuk seekor keledai” balas bapa maryono tanpa kehilangan kesabaran.
“apa itu dilarang agama?” kata anak itu. “ya” kata bapak maryono. “apa saya tidak boleh mengulanginya lagi?” kata anak itu semakin mengangkuhkan wajahnya. “ya” balas bapa maryono “mengapa bapak bisa mengatakan begitu?” Tanya anak itu kembali. Bapak maryono hanya tersenyum dan menurunkan dagu anak yang mendangakkan dagunya.
Setelah dialog itu, bapak maryono kembali menunggangi sepeda bermerek atlantis yang ia sandarkan di plang masjid itu. Bapak maryono akan segera memulai perjalannya yang akan sangat jauh. Perjalannannya akan berlangsung selama 2 jam, dia akan mengayuh sepeda tuanya selama dua jam. Perjalanan dari kota ke kabupaten yang sangat jauh. Perjalanannya yang jauh dan ilmunya yang di berikan untuk murid-murid tidak mendapatkan balasan upah yang seimbang. Semua dilakukannya hanya untuk beribadah.
Kini bapa maryono telah melepas spedanya untuk dikayuh ke TPA. Tubuhnya sudah terlalu lelah. Namun ilmunya masih teringat di ingatan para santri yang di didiknya dulu.
Bapak maryono duduk termenung di teras rumahnya. sambil mengaduk secangkir teh. Suasana rumahnya begitu hening. Tak terdengar suara orang bicara, tv bersuara. Hanya tertinggal suara denting sendok beradu dengan gelas kaca. Tiba-tiba, pria bermotor dengan nuansa kuning berhenti di hadapannya. Pria itu memberikan kertas putih untuk bapak maryono. Tangan bapak maryono sedikit gemetar menerima surat itu. Bapak maryono membaca surat itu, di surat itu bapak maryono di minta hadir di suatu launching buku islami. Buku karangan Arfan al-Fajr bapak maryono yang sudah sedikit pikun, mencoba mengingat-ingat siapa nama ini. Nampak pernah ia sebut. Bahkan rasanya dia pernah menyebut nama itu berulang-ulang kali.
Bapak maryono memenuhi untuk datang ke undangan itu. Sesampainya ia di tempat itu, dilihatnya dia hanya mengenakan baju koko dan peci yang memudar, dengan celana mengatung, dan sandal jepit, dan tak lupa tas gratisan dari pusat pemberdayaan wanita berdiri mendangak di gedung bersar megah nan gagah. Tiba-tiba, seorang berpakaian dinas keamanan menghampirinya, dan menanyakan maksud kedatangannya. Tubuhnya yang kurus dan membungkuk gemetar saat di tanyakan. “saya hanya memenuhi undangan ini pa”, jawab bapa maryono dengan nada yang sabar. Saat dilihat surat itu tertera tulisan ‘kepada bapak maryono’ pria itu langsung menuntun bapak maryono dan mengajaknya bicara dengan sangat ramah.
Saat bapak maryono menujukkan pandangannya kedalam ruangan, dilihatnya seorang pria gagah mengenakan kupiah bicara semangat di atas mimbar. Bapak maryono duduk di bangku deret paling depan. Setelah disimak, pria itu menyampaikan kisah Umar Bin Khattab. Pria itu menggerakkan tubuhnya dan mimik wajahnya untuk menghayati ceritanya. Bapak maryono pun mengenali gaya bercerita ini. ini gayanya bercerita. Seusai pria itu berkoar koar di mimbar, pria itu menyambut hangat bapak maryono. “assalamualaikum, bapak maryono selaku tamu kehormatan . terimakasih atas keluangan waktu bapa” kata anak itu dengan suaranya yang nan halus. Lalu segerombol anak muda berjilbab dan berkupiah melihat kearah bapa maryono. Bapak maryono yang beranjak dari duduknya, dan berjalan menuju mimbar itu. Belum juga langkah bapak maryono sampai pada mimbar, pria itu dengan segerombolan anak yang berjilbab dan berkupiah tadi menghampirinya menjulurkan tangannya dan memperebutkan tangan bapa maryono.
Pria yang tadi berkoar itu, menyalami bapak maryono terlebih dahulu. “assalamualaikum pa” kata pria itu. “waalaikum salam” kata pa maryono dan menyipitkan matanya mencoba mengenali wajah pria itu. Lalu pria itu melipat tangannya di dada dan mengangkat wajahnya dengan angkuh dan berkata dengan lantang “ mengapa bapa bisa mengatakan begitu?” bapa maryono mulai mengenali pria ini. anak yang meneriakkan surah Al-Asr kini menjelma menjadi pria yang gagah dan lembut. Dilihatnya orang-orang yang memperebutkan tangannya. Mulai dikenalinya wajah muridnya di Masjid Al-Barqah.
Bapak Maryono
Tak ubahnya pak maryono dari hari ke hari. Tubuhnya selalu terbungkuskan baju koko. Harum tubuh bapak maryono khas aroma pria yang akan pergi jum’atan. Peci yang dikenakannya 4 tahun yang lalu berwarna hitam. Tapi kini sudah memudar, tak ada warna hitam di pecinya. Warna hitam bergantikan oranye ke ungu-unguan.
Ciiiiiiiiiiiiiiiit… suara rem bergesekan besi pada pelk roda di sepeda bapak maryono. Speda pa maryono berhenti di depan plang bertuliskan Masjid Al Barqah. Bapak maryono menyenderkan spedanya ke plang itu. Belum sampai langkah bapak maryono di masjid tujuannya seorang anak kecil memanggil keras namanya. Menyerukan kepada temannya “Pa Maryo!!!”. Kemudian serentak segerombolan anak kecil berjilbab dan berkupiah berlari menyerbu langkah bapak maryono. Anak-anak berlomba menjulurkan tangannya. Bapak Maryono menjulurkan tangannya dan akan-anak itu saling berebutan tangan bapak maryono dan menaruh di pipi mereka.
Bapak maryono adalah seorang pengajar di TPA. Bergurau dengan candaan islami bersama anak kecil sudah menjadi santapan sehari-harinya. Hari ini bapak maryono akan menyampaikan materi sejarah islam di masjid Al Barqah. Anak-anak menyimak kisah Umar Bin Khattab dengan saksama. Mata muridnya tak lepas dari wajah bapak maryono yang antusias menyampaikan kisah Umar Bin Khattab. Dengan semangat bapak maryono meggerakkan tubuh kurus dan mimik wajahnya. Bapak maryono berulang kali menempatkan lirikan matanya ke jam dinding yang menempel di dinding masjid. Berulang kali ia melirik ke dinding itu. Pada akhirnya sore sampai pada pukul 16.30. waktunya untuk bapak maryono mengakhiri kisah sahabat nabi tersebut.
Anak-anak membaca surah Al-asr sebagai pengnutup pertemuan hari ini. anak-anaknya dengan semangatnya sampai-sampai menjerit meneriakkan surah Al-Asr. Satu anak laki-laki meneriakkan paling semangat di pojok ruangan. Bapak maryono hanya menunjuk anak tersebut dan mengayunkan telunjuknya ke bawah. Dan anak itu menurut dan merendahkan suaranya. Kebijakan yang dilakukan bapak maryono adalah salah satu cirri khas dari bapak Maryono. Dia tidak perlu membentak atau pun memukul. Hanya dengan gerak tubuhnya anak muridnya akan tau apa yang bapak maryono perintahnkan.
Saat usai membaca surah Al- asr murid-murid kembali memperebutkan tangan bapa maryono untuk menaruh di pipi mereka. Saat melangkah keluar masjid untuk didik di pinggir dan menaruh lelah dari tubuhnya, anak yang tadi menjerit meneriakkan surah Al-asr paling keras menghampirinya “assalamualaikum!” nadanya menantang. “walaikum salam” jawab bapa maryono dengan nada halus. Anak itu melipat tangannya di dadanya. Wajahnya angkuh dengan dagu terangkat. “mengapa bapa suruh saya diam tadi?” kata anak itu. “bapa tidak menyuruh mu diam. Hanya mengurangi ketinggian suara mu.” Balas bapa maryono dengan nada yang sabar. “tapi saya ingin membaca surah Al- Asr dengan semangat, itu saja. “ katanya. Lalu bapa maryono lagi-lagi menjawab dengan sabar “tapi cara mu itu salah, kamu tau suara apa yang seburuk-buruknya? “ anak itu menggeleng masih dengan tangan terlipat dan dagu yang angkuh. “suara yang membentak, suara yang hanya layak untuk seekor keledai” balas bapa maryono tanpa kehilangan kesabaran.
“apa itu dilarang agama?” kata anak itu. “ya” kata bapak maryono. “apa saya tidak boleh mengulanginya lagi?” kata anak itu semakin mengangkuhkan wajahnya. “ya” balas bapa maryono “mengapa bapak bisa mengatakan begitu?” Tanya anak itu kembali. Bapak maryono hanya tersenyum dan menurunkan dagu anak yang mendangakkan dagunya.
Setelah dialog itu, bapak maryono kembali menunggangi sepeda bermerek atlantis yang ia sandarkan di plang masjid itu. Bapak maryono akan segera memulai perjalannya yang akan sangat jauh. Perjalannannya akan berlangsung selama 2 jam, dia akan mengayuh sepeda tuanya selama dua jam. Perjalanan dari kota ke kabupaten yang sangat jauh. Perjalanannya yang jauh dan ilmunya yang di berikan untuk murid-murid tidak mendapatkan balasan upah yang seimbang. Semua dilakukannya hanya untuk beribadah.
Kini bapa maryono telah melepas spedanya untuk dikayuh ke TPA. Tubuhnya sudah terlalu lelah. Namun ilmunya masih teringat di ingatan para santri yang di didiknya dulu.
Bapak maryono duduk termenung di teras rumahnya. sambil mengaduk secangkir teh. Suasana rumahnya begitu hening. Tak terdengar suara orang bicara, tv bersuara. Hanya tertinggal suara denting sendok beradu dengan gelas kaca. Tiba-tiba, pria bermotor dengan nuansa kuning berhenti di hadapannya. Pria itu memberikan kertas putih untuk bapak maryono. Tangan bapak maryono sedikit gemetar menerima surat itu. Bapak maryono membaca surat itu, di surat itu bapak maryono di minta hadir di suatu launching buku islami. Buku karangan Arfan al-Fajr bapak maryono yang sudah sedikit pikun, mencoba mengingat-ingat siapa nama ini. Nampak pernah ia sebut. Bahkan rasanya dia pernah menyebut nama itu berulang-ulang kali.
Bapak maryono memenuhi untuk datang ke undangan itu. Sesampainya ia di tempat itu, dilihatnya dia hanya mengenakan baju koko dan peci yang memudar, dengan celana mengatung, dan sandal jepit, dan tak lupa tas gratisan dari pusat pemberdayaan wanita berdiri mendangak di gedung bersar megah nan gagah. Tiba-tiba, seorang berpakaian dinas keamanan menghampirinya, dan menanyakan maksud kedatangannya. Tubuhnya yang kurus dan membungkuk gemetar saat di tanyakan. “saya hanya memenuhi undangan ini pa”, jawab bapa maryono dengan nada yang sabar. Saat dilihat surat itu tertera tulisan ‘kepada bapak maryono’ pria itu langsung menuntun bapak maryono dan mengajaknya bicara dengan sangat ramah.
Saat bapak maryono menujukkan pandangannya kedalam ruangan, dilihatnya seorang pria gagah mengenakan kupiah bicara semangat di atas mimbar. Bapak maryono duduk di bangku deret paling depan. Setelah disimak, pria itu menyampaikan kisah Umar Bin Khattab. Pria itu menggerakkan tubuhnya dan mimik wajahnya untuk menghayati ceritanya. Bapak maryono pun mengenali gaya bercerita ini. ini gayanya bercerita. Seusai pria itu berkoar koar di mimbar, pria itu menyambut hangat bapak maryono. “assalamualaikum, bapak maryono selaku tamu kehormatan . terimakasih atas keluangan waktu bapa” kata anak itu dengan suaranya yang nan halus. Lalu segerombol anak muda berjilbab dan berkupiah melihat kearah bapa maryono. Bapak maryono yang beranjak dari duduknya, dan berjalan menuju mimbar itu. Belum juga langkah bapak maryono sampai pada mimbar, pria itu dengan segerombolan anak yang berjilbab dan berkupiah tadi menghampirinya menjulurkan tangannya dan memperebutkan tangan bapa maryono.
Pria yang tadi berkoar itu, menyalami bapak maryono terlebih dahulu. “assalamualaikum pa” kata pria itu. “waalaikum salam” kata pa maryono dan menyipitkan matanya mencoba mengenali wajah pria itu. Lalu pria itu melipat tangannya di dada dan mengangkat wajahnya dengan angkuh dan berkata dengan lantang “ mengapa bapa bisa mengatakan begitu?” bapa maryono mulai mengenali pria ini. anak yang meneriakkan surah Al-Asr kini menjelma menjadi pria yang gagah dan lembut. Dilihatnya orang-orang yang memperebutkan tangannya. Mulai dikenalinya wajah muridnya di Masjid Al-Barqah.
Kamis, 15 April 2010
Yang Kiri Untuk Pangkat Ayah
Pagi ini keluarga Khaidir akan bersiap memulai kegiatan mereka masing-masing. Keluarga ini tidak ingin melewati kesempatan makan pagi bersama di ruang makan keluarga ini, keluarga ini sangat merindukan perkumpulan keluarga karena bapak Khaidir sering kali pergi berdinas dalam waktu yang tidak sebentar.
Dua hari yang lalu bapak Khaidir mendapati naik pangkat. beliau menyimpan rapi pangkat barunya itu di atas rak tempat pajangan-pajangan di tata rapi. Pangkat itu begitu elok di pandang mata. Bila ada matahari cahaya matahari berpantulan dengan benda emas nan gagah itu.
Kali ini bapak Khaidir ingin pergi ke kantornya, masih dengan perasaan bangga atas kenaikan pangkatnya. Sebelum berangkat hari ini beliau menatap kagum ke pangkat barunya, di usapnya pangkat itu sembari menyisihkan debu-debu halus yang menempel di pangkatnya.
Setelah selesai makan pagi, bapak Khaidir bergegas untuk pergi ke kantornya. Di cuimnya kening ibu. Di ulurkannya tangan besarnya ke arah raji anaknya dan dibisikannya dengan suara beratnya “jangan nakal ya nak..” suara beratnya yang di rendahkan terdengar seperti kerumunan lebah. Raji hanya mengangguk kecil. Dan di usapnya rambut 2 cm raji. Setelah berpamitan ayah segera membalikkan badannya, di punggunginya tas loreng miliknya. Ayah berbaju hijau loreng disertai dengan baret hijau. Ketuk sepatunya dengan lantai menghantarnya meninggalkan rumah. Bunyinya semakin menghilang-menghilang dan tidak lagi terdengar. Bagi raji kali ini senyum ayah sangat berbeda dari senyum biasanya. Sangat berbeda dengan perawakannya sebagai jendral.
Hari ini Raji libur sekolah, karena para guru sedang merapatkan ujian nasional untuk siswa kelas 6. Sehingga murid-murid di liburkan sementara waktu. Seperti biasanya raji senang menghabisakan waktu bersama lego-legonya. Dia selalu sibuk sendiri dengan legonya. Dia selalu mengidolakan lautan. Cita-citanya ingin menjadi seorang mariner, dari lego-lego nya dia bangun sebuah marcusuar putih nan gagah. “apa ya yang kurang?? Harusnya ada gambar jangkar nya.” Kata Raji yang sibuk berdialog sendiri. Dia menengok ke kanan dan kiri, apa yang bisa ia ambil untuk melengkapi marcusuar rancangannya? Dia melihat ke arah rak pajangan ibu, ada satu benda yang menarik pengelihatannya. Sebuah benda dengan lempeng kuning, terlihat cahaya matahari berpantulan dengan benda elok itu. Raji tertarik dengan benda itu, ia berniat menjadikan benda itu sebagai lambang marinirnya.
Raji menghampiri rak itu, dia menjulurkan tangan kurusnya ke arah benda itu. Namun dia tidak bisa mnjangkaunya. Benda itu terlalu tinggi untuknya. Raji berupaya melompat-lompat untuk meraih benda itu. Dia terus melompat-lompat untuk meraih benda itu. Dan Hop! Raji menyentuh ujung benda itu, tapi benda itu belum dia raih. Sayangnya Raji hanya merubah arah hadap benda itu. Dia menengok kanan kiri fikirnya adakah benda yang dapat membantunya meraih benda itu? Kanan, kiri ia tengok dan di sisi kanan dia melihat sebuah kemoceng yang bulu-bulunya tertiup angin siang hari. Tanpa fikir panjang dia mengambil kemoceng itu dan kembali menjulurkan tangannya ke atas untuk meraih benda tersebut. Dia terus berlompatan meraih benda itu.
Dan tiba-tiba saja “DUK!” benda itu terjatuh, lempengan emas itu jatuh di sebelah jari-jari kaki kecil Raji. Benda itu membentur lantai, saat Raji melihatnya ternyata benda itu sudah dalam bentuk yang berbeda. Benda itu hancur. Dengan cepat raji berlutut dan membereskan serpihan benda itu. Dia kebingungan bagaimana mengutuhkannya kembali? Sampai berkeringat Raji memunguti serpihan benda itu, keringatnya membentuk gumpalan kecil seperti buliran jagung di pelipisnya. Dia menggaruk kepalanya seraya kebingungan.
Waktu terus berjalan, seolah tanpa member toleransi pada Raji. Tiba-tiba terdengar suara berat yang tegas dari balik pintu. Ibu yang sedang asik dengan rajutannya menengok ke arah pintu. “Assalamualaikum!” kata orang di balik pintu. Ibu melihat raji dan segera bergegas menghampiri pintu dan membukanya. Raji tidak perduli dengan suara itu, ia masih menyibukkan diri dengan benda yang ia hancurkan. “Ayah! Walaikumsalam. Tumben cepet yah..” kata ibu dengan suara lembutnya. Dari kejauhan Raji mendengar percakapan dua suara yang berbeda, yang satu sangat halus yang satu benar-benar terdengar berat dan tegas. Keringat raji yang menggumpal di pelipisnya semakin menebal sesekali jatuh melintasi hidung dan dagunya. “Raji mana bu?” kata ayah. “lagi main yah..” balas ibu sekenanya. Dan langsung pergi ke kamar menyelesaikan jahitannya.
Di ruang tengah raji masih sibuk dengan serpihan benda itu. Dan ayah pun menghampiri Raji yang sedang duduk bersimpuh lutut. Sesekali Raji menundukan tubuh kurus kecilnya dan mengulurkan tangnnya ke kolong-kolong rak untuk mencari masih adakah serpihannya di bawah sana. “Ji! Lagi apa?” Tanya ayah dengan suara beratnya yang di halus-haluskan. Raji hanya diam sambil berupaya menutupi benda itu dari pandangan ayah. Dan raji kembali duduk bersimpuh lutut untuk membenahi pecahan benda tersebut. Dan ayah pun melihat pangkatnya hacur lebur di tangan Raji.
Tanpa berfikir lagi ayah langsung mencengkram erat pudak kurus raji yang basah karena keringat. Sampai leher bajunya turun sampai pundaknya. Di cengkramnya sampai bergetar karena saking kuatnya. Raji menunduk tak berani melihat wajah ayahnya. Raji terisak-isak kecil menangis. Dengan suara lantang ayah berkata. “RAJI! APA KAMU TIDAK TAU BAGAIMANA AYAH MEMPEROLEH BENDA INI? KENAPA KAMU HANCURKAN PANGKAT AYAH NAAK??!! DASAR ANAK NAKAL!” kata ayah. Nampaknya kalimat ini sudah lebih dari ketus. Membuat mata Raji tak sanggup lagi membendung air matanya. Kelopak matanya bergetar dan tak lama kemudian air matanya mengucur begitu deras.
Raji menempelkan keningnya di lutut ayahnya yang duduk berlutut di sampingnya yang masih mencengkram pundak Raji. Dengan terisak-isak raji berucap kecil dari bibir mungilnya “ maafkan aku ayah. Aku tidak sengaja,..” kata Raji. Keringat Raji mengucur deras menyatu bersama air matanya yang semakin heboh mengalir melintasi hidung, dan dagunya. Bajunya basah dan lepek karena menyerap air-air keringat dan mata Raji. “AYAH DAPATKAN INI DENGAN SUSAH PAYAH! KAMU TAU???!” nada bicara ayah semakin mengeras dan semakin marah. Raji terus menangisi perbuatannya. Tubuhnya masih bergetar karena takut dan merasa bersalah.
Dengan tega ayah memuluki tangan Raji dengan gagang sapu. Raji pun menjerit-jerit-jerit kesakitan sesekali ia menyembunyikan tangan kirinya di antara perut dan punggungnya tapi tetap saja terasa sakit. “Ayah.. maafkan aku ayah. Tangan ku sakit ayah.. tangan ku sakit.. jangan pukul lagi ayah. Aku ga akan nakal lagi ayah.. tangan ku sakit ayah..” dengan malangnya Raji memohon pada ayahnya, namun jeritan itu tak kunjung meredam kemarahan ayahnya. “ANAK NAKAL! AYAH KURUNG KAMU DI GUDANG YA! KAMU ITU PANTAS DI HUKUM TAU?!!” kata ayah. Dan langsung mengangkat tubuh Raji menuju gudang. Raji masih meneriakkan ampun pada ayahnya dan menjerit kesakitan. Tangannya sudah sakit bukan kepalang, sampai-sampai keringat yang melintas di tangannya tidak terasa lagi.
Ayah pun menaruhnya di gudang, dan mengunci gudang dari luar. Di tinggalnya Raji sendiri di gudang. Sedari tadi ibu hanya diam melihat Raji di pukuli ayahnya. “bu, itu Raji kasian di pukuli ayahnya, sekarang di kurung pula. Kasian itu bu tangannya sakit” kata mbok samiah pembantu rumah itu. Dan ibu hanya membalas “ biarkan mbok, dia juga yang nakal. Ayahnya baru pulang sudah buat masalah” Kata ibu. Di dalam Raji terus menjerit-jerit kesakitan, Sampai suaranya serak dia tetap menjerit kesakitan dan menangis “Tolong.. Tolong aku. Tangan kiri ku sakit.. tolong aku.. tangan ku sakiit” suara Raji dari dalam.
Malamnya mbok Samiah tidak lagi mendengar jerit itu. Mbok Samiah menaruh kupingnya ke pintu gudang, seraya menguping apa yang Raji lakukan. Terdengar bisik isak tangis yang berkata “ayah.. maaf.. tolong aku.. tangan ku sakit ayah.. tolong ayah.. maafkan aku.. tolong ayah..” berulang-ulang kali Raji meminta tolong. Mbok samiah yang tersentuh mendengarnya membuka pintu gudang, dan didapatinya tangan kiri Raji berdarah dan membengkak. Jemarinya tak lagi kecil seperti sebelumnya. Di pegangnya tubuh Raji yang lepek basah karena keringat dan air mata. Bajunya berwarna lebih tua dari sebelum ia menangis, warnanya menjadi lebih tua karena menyerap air mata. Mbok Samiah merangkul tubuh Raji yang masih juga gemetar. Raji pun masih membisikkan permohonan tolong dari bibir kecilnya. Semaki sulit ia berkata karena terus mengisak-isak. Mbok Samiah menyuapkan makan malam kepada Raji yang sedari tadi belum makan dari siang. Setelah itu mbok Samiah kembali mengunci pintu gudang.
Paginya Mbok Samiah melaporkan pada ibu, “bu, Raji kasian bu. Tangannya berdarah, memar. Dia nangis semalaman minta maaf sama ayahnya”. Sata Mbok Samiah penuh prihatin. “Haduh.. bi.. saya juga pusing, dia tuh nakal terus” balas ibu menganggap sepele perkataan Mbok Samiah.
Malam Ini suara Raji tidak lagi terdengar membisik minta tolong. Dan Mbok Samiah memeriksa keadaan Raji di Dalam. Didapatinya Raji yang tertidur dengan tangan memar dan tubuh yang panas tinggi, bibirnya membiru. Mbok Samiah segera memberitau ibu “Bu, Raji badannya panas, tangannya memar pula bu.” Kata Mbok Samiah dengan nada panik. “Ah.. paling Cuma masuk angin mbok..” balas ibu sekenanya. Mbok Samiah mencari pertolongan dari ayah setelah mendapat anggapan remeh dari ibu. Mbok Samiah memberitau pada ayah keadaan Raji di dalam gudang.
Dengan segera ayah membawa Raji ke rumah sakit, sampai di rumah sakit Raji ditangani seorang dokter. Setelah satu jam pengobatan, kemudian pria berjubah putih itu keluar dari ruangannya. Pria itu bertutur bahwa luka Raji terlambat di tangani dan membusuk, sehingga dokter memutuskan untuk mengamputasi tangan Raji. Mendengar kalimat dokter itu ayah begitu menyesal. Ia menutup matanya yang menampung air mata yang terbendung di kelopak matanya. Dengan langkah lamban dia menghampiri Raji yang sedang tertidur memandangi tangannya yang tertutup perban putih.
“Ayah! Ayah! Ayah! Sini ayah!, Aku mau minta maaf ayah.. Peluk aku Ayah!!!” kata Raji dengan amat senang. Ayah menghampirinya dan memeluknya erat-erat. Air mata ayah mengucur begitu deras, dan terjatuh ke punggung Raji. “ Kata dokternya, tadi aku kesini di gendong ayah, ayah tadi peluk aku. Ayah maafkan aku ya..” dengan senangnya ia tuturkan kalimat itu. “Ayah sudah maafkan kamu nak, ayah yang harusnya minta maaf sama kamu nak..” kata ayah sambil menangis, dan berupaya menghentikan kucuran air matanya. “benar ayah sudah maaf kan aku.. asiiik” Senyumnya semakin lebar di peluknya kembali ayahnya sambil berkata riang. “asik ayah sudah maaf kan aku”, kalimat itu semakin membuat ayah menyesal. Dan Tak lelah-lelahnya Raji berkata, “ Ayah.. ayah benar sudah maafkan aku kan, kalau sudah maafkan aku, tolong kembalikan tangan kiri ku ayah..”.
16.15
Begitu sunyi suasana rumah ini. hanya tersisa dentingan sendok beradu gelas kaca. Anjani yang mengaduk teh di cangkir ayahnya. Pandangannya tak lepas dari pintu hijau bobrok yang dimiliki keluarganya dari tahun 1997. Pukul 16.15 adalah waktu cemas untuk Anjani. Waktu inilah yang menentukan ayahnya akan pulang atau tidak. Di liriknya jam gratisan dari supermarket menunjukan pukul 16.12. tiga menit lagi.
Sampai akhirnya jam usang itu menunjukkan pukul 16.15 dan bergeser sekali ke pukul 16.16. terdengar suara sandal swalow bergesekan dengan tanah. Itu ayah. Dari suara berjalannya, salah satu kaki ayah terluka. Pasti hari ini ayah habis babak belur dipukuli pereman di kereta. “Jani!! Jani!!”.teriak ayah dari balik pintu. Anjani hanya menatap ayahnya seolah tak heran. Ayah pun masuk dan duduk di bangku dalam rumah. Anjani pun menutup hati-hati pintu bobrok itu, khawatir akan lepas dari engselnya.
3 lalat hitam berterbangan diatas dengkul ayah yang terluka. Anjani mengusir lalat-lalat itu, dan meneteskan betadine ke luka ayah. “ayah kalah lagi?” Tanya anjani takut. Ayah mengusap keningnya yang menampung keringat. “tidak, hari ini ayah lari.. lari kencang sekali. Melebihi laju kereta api. Haha.. puas ayah”. Bibir keringnya tersenyum dan terlihat bibirnya pecah-pecah. Wajah anjani masih juga penuh cemas. Di ulurkannya gelas berisi teh hangat ke ayah. “hari ini ayah boleh komentar rasanya manis atau tidak”. Kata anjani diakhiri dengan senyumannya. “haaah.. ada yang aneh dengan teh ini. apa kamu memasukan sehelai kelopak melati kedalamnya, ayah mencium aroma harum melati”. Kata ayah menutup matanya dan terus mendekati hidungnya dengan ujung cangkir teh itu. Anjani hanya tersenyum menyaksikan laku ayahnya mengendus-endus aroma dari ujung cangkir.
Anjani melihat bakul ayah, yang ayah pakai untuk menjual rokok, permen, tisu, dan minuman. Hanya tersisa satu bungkus tisu merk paseo hijau yang tergeletak malang. “hari ini bersisa satu tisu yah?” Tanya anjani. Ayah hanya mengagguk seraya tak sanggup bicara karena asik minum teh yang harum itu. “aaahh.. alhamdulilah, nikmat sekali teh mu ini jani..” kata ayah sambil mengusap bibirnya yang celemotan dengan teh tadi. “ayah mandi dulu ya” kata ayah dan bergegas ke kamar mandi.
Anjani duduk, duduk di bangku yang hampir patah. Kerena kayunya sudah di makan rayap. Dalam hatinya berdo’a agar ayahnya bisa pulang lagi esok hari. Anajani hanya perempuan kecil, yang tidak sekolah dan tidak punya ibu. Sehari-hari ia hanya dirumah. Masak untuk ayahnya, membuat teh untuk ayahnya, menyuci bajunya dan ayahnya. Sungguh pilu nasibnya. Dulunya anjani ikut dengan ayahnya berdagang di kereta menjajahkan tisu, permen, rokok, dan air minum. Namun ternyata populasi pereman di kereta itu semakin hari semakin ramai. Ayahnya khawatir anjani celaka, dan kini anjani hanya diam dirumah. Usianya baru 13 tahun, tapi kegiatannya selayaknya wanita yang sudah berumah tangga.
----------------------------------------------------------
Keesokan harinya, pukul 15.00. setelah selesai mengangkat jemuran dari belakang rumah, anjani bergegas ke dapur rumahnya. Tiba-tiba bunyi kelontang kelanting seperti reruntuhan membahana dari dapur itu. Anjani menoleh kearah pintu depan rumah, didapatinya kayu-kayu penyanggah atap rumah reotnya berjatuhan. Anjani berlari kecil ke ruang tamu, bangku yang telah rontok dimakan rayap-rayap rakus itu patah. Sebisa tangan kurusnya anjani menyisihkan kayu-kayu yang berjatuhan itu. Anjani hanya ingin menyelamatkan gelas ayahnya. Itu saja. Tangannya tak juga menjangkau gelas itu, khawatir akan pecah anjani menginjak salah satu kayu besar yang paling dekat dengan lututnya.
Anjani kecil masih juga meraih-raih gelas itu. Sampai kerinngatnya yang hangat itu, menghujani pelipis dan wajahnya. Juga leher dan punggungnya. Sampailah tangan anjani meraih gagang gelas itu. Kakinya yang bertumpu pada kayu balok kurus yang dari tadi bergerak-gerak karena anjani. Kayu rongsok itu tiba-tiba berguling ke depan dan mengarahkan wajah anjani pada kayu di depannya. Kayu yang dipenuhi paku. “aduh, jangan jatuh.. jangan jatuh..” bisik anjani kecil. Anjani menggeser lututnya yang bertupu pada kayu ke belakang supaya lututnya bertumpu di lantai. Perlahan-lahan ia pindah lututnya. Berhasil dan ajani pun duduk bersandar pada dinding sembari menaruh lelah dari tubuhnya.
Keringatnya masih juga mengucur deras. Nafasnya begitu cepat karena lelah, anjani membuka mulutnya untuk mendapat udara lebih. Setiap anjani membuka mulut masuklah rasa asin dari keringatnya. gaun lusuh yang anjani pakai begitu lepek basah dengan keringatnya. warna biru gaun lusuhnya menjelma menjadi biru tua karena air keringat asin yang mengucur di pori-pori anjani. Rambutnya basah karena keringat. Ini sudah tidak bisa menunggu lagi, sebentar lagi ayah akan pulang dan harus sudah ada teh. Terasa ruang tamu begitu terang, anjani melihat keatas ternyata atap rumahnya sudah habis. Menyisahkan 8 rusuk kayu penyanggah. Sesekali terlihat kayu-kayu anyaman atap rumahnya berkibar-kibar tertiup angin.
Ini sudah tidak bisa menunggu lagi, 16.15 ayah pulang. Gelas ayah masih kosong, dan masih bau teh kemarin sore. Anjani bergegas ke dapur, ditemani kucing coklat kampung yang setiap hari menemani anjani. Anjani mengambil air dari belakang rumahnya, di ember-ember gembel yang menampung air dari sumur. Diambilnya sampai setengah panci, dimasukannya serbuk teh. Anjani kecil menjulurkan tangannya yang memegang korek api ke sumbu kompor. Kucing kampung itu mengeong-ngeong kelaparan. Anjani melemparkan nasi sisa kemarin malam. Nasi basi dari beras murahan. Kucing itu langsung menghampiri nasi basi itu dan memakannya hingga habis. Anjani mengelus-elus kepala kucing itu. Kucing itu menyandarkan kepalanya ke paha anjani yang bersimpuh lutut disamping kucing itu. Si kucing menjulurkan kepalanya ke paha anjani begitu manja.
Asik anjani bermain dengan kucing itu, terdengar bunyi sssssshhhhhhhuuuuuuuuusssshuhhhhuhssssssssssssss.. dari belakang punggung anjani. Anjani masih juga bermanja-manja dengan kucing itu. Sampai tetesan air the mendidih menyentuh kakinya. “aaw.. panas”. Kata anjani dan langsung menoleh kebelakang. Air teh untuk ayah telah mendidih dan meluap keluar menghadang tutup panci. Anjani mengelus kucing itu dan berbalik mengangkat panci itu. Anjani menunangkan air teh yang masih mendidih itu ke gelas ayah. Anjani mengisi seper delapan gelas, untuk sisanya di isi air putih agar tidak terlalu panas.
Kucing itu masih mencari serpihan-serpihan nasi basi yang diberi anjani. Anjani menuangkan sisa serbuk tehnya kedalam wadah untuk dimasak lagi besok. Didapatinya panci itu dengan bagian belakangnya hangus. Warna putihnya berubah hitam. Anjani melihat dirinya dari hitam-hitam panci itu. Dilihatnya anjani yang usang, wajah memelas lebih memelas dari kucing lapar tadi. Garis-garis halus di bawah kelopak matanya tampak jelas, keringat bercucuran di pelipis dan lehernya berjahutan seirama. Keringat sebesar bulir jagung menggupal diatas bibir bisunya. “aku begitu usang” kata anjani pelan dan melirik ke arah kucing.
Anjani mencuci panci itu dan menggosok bagian belakangnya hingga terlihat lagi warna putihnya. Nampaknya panci itu sudah semakin tipis. Setiap hari anjani gosok dengan batu untuk menghilangkan hitamnya. Anjani mengambil gelas ayahnya dan mengambil gula. “cukup 2 sendok” kata anjani bermonolog. Kucing di sebelah kakinya menciumi kaki anjani berharap diberi lagi segumpal nasi basi.
Ditengoknya jam di sudut ruang tamunya. Ternyata sedikit tertutup runtuhan kayu dari atap. Anjani mengambil sendok kecil dari dapur rumahnya. Dapur yang begitu terang, karena memiliki cerita yang sama dengan ruang tamunya. Ruang itu begitu sunyi, sema seperti hari-hari biasanya. Hanya ada denting sendok besi beradu dengan gelas kaca. Anjani mengaduk tehnya untuk bercampur dengan gula. Anjani duduk disalah satu kayu yang runtuh di ruang tamunya. Sambil melihat ke pintu hijau bobrok rumahnya. Anjani melihat kesudut rumahnya, celingak-celinguk kearah jam gratisan dari supermarket itu. Terlihat jarum panjangnya menunjuk ke angka 2. Pertanda 5 menit lagi. Ayah pulang atau tidak. Bibir anjani berbisik pelan. Pelan sekali. Sampai-sampai bisa dikalahkan dengan suara sehelai rambut yang jatuh kelantai.
“ayah harus pulang.. ayah harus pulang.. ayah harus pulang” tangan aanjani sambil mengelus-elus sayang punggung kucing kampung itu. Belum juga terdengar suara orang menyeret sebelah kakinya karena terluka. Dan yang terdengar hanya suara sendal dari karet yang terdengar masih baru beradu dengan tanah bercampur kerikil. Suara sandal itu berganti dengan suara laki-laki tua, suaranya seperti terpendam dengan kumis-kumis lebat. Orang dibalik pintu itu minta dibuka kan pintu. Anjani takut, itu bukan suara ayah pulang. Tak ada kaki yang diseret. Tapi suara laki-laki itu…
Orang itu mendobrak pintu hijau reot. Tanpa hati-hati, dan terbuka pintu rumah itu. Dilihatnya anjani menggengam gelas kaca, gelas kaca itu digenggam anjani begitu erat. Ternyata suara itu benar. Suara ayah. Tapi mengapa kaki ayah tidak terluka hari ini? “ayah. Atap rumah runtuh, semunya runtuh, menyisakan 8 rusuk kayu diatas ayah atap anyamannya juga sudah hancur sekarang ruang tamu kita bolong jadi begitu terang bagaimana kalau hujan ayah tidak mungkin kita berdua kehujanan didalam rumah” kata anjani cepat tanpa mengambil nafas, ayahnya masih diam mematung didepan pintu. “jangan khawatir jani, dua hari belakangan ini dagangan ayah lumayan laris. Hari ini ayah menyisakan 1 permen. Tisu yang kemarin sudah laku terjual. Juga barang-barang yang baru tadi pagi ayah ambil” sambat ayahnya. Anjani hanya berbalas senyum, sambil menjulurkan gelas kepada ayahnya.
“jani.. sini nak.. ayah mau bicarakan sesuatu.” Kata ayahnya sambil mengayunkan tangannya memerintah kepada anjani unutuk mendekat. Anjani menghampiri ayahnya. Ayahnya terlihat begitu kumal. Bajunya yang berwarna biru muda jeans berlumuran keringat asin, dan noda-noda kecoklatan. Rambut ayah pun begitu basah, karena panas tertutup topi seharian.
“jani, besok jani ulang tahun kan..?, besok ayah akan ajak anjani pergi ke pasar depan. Kita bisa makan enak dan anjani bisa beli baju baru. Besok pulang ayah berjualan jani pakai baju yang cantik ya” kata ayahnya sembari merapihkan rambut anjani yang kusut. Anjani hanya mengangguk dan tersenyum. Batin anjani senang bukan kepalang. Batinnya bagai berjingkrakan. Pasar, makanan, dan baju baru.. bagai kabar dari surga untuk anjani.
___________________________________
Pagi ini. anjani duduk di depan rumah untuk mengantar ayahnya bekerja. “jani.. ayah berangkat ya.. jangan kamu tingkah nakal ya di rumah, nanti sore kita ke pasar”. Kaya ayahnya menyisakan senyum lembutnya di balik serangkaian kumis lebatnya. Di ciumnya kening anjani. Dipeluknya tubuh anjani. Kecang begitu erat, sampai membuat anjani merasa sesak, tidak bisa bergerak, namun anjani tak berupaya apapun. “ayah pergi ya nak”. Mengakhiri pelukannya untuk anjani. Ayah pergi memunggungi rumah yang bolong ruang tengahnya, dan anjani di depan pintu. Suara sandal ayah yang beradu dengan batu-batu kecil gemercit terdengar jelas. Lama-lama samar-samar dan hilang. Tinggal anjani sendiri mematung melihat langkah ayahnya.
Siangnya, anjani masuk ke kamarnya berdiri di depan cermin ¼ retak. Anjani menunjukkan senyum manisnya ke kaca itu. Dia berputar, melihat kesamping, menyisir rambutnya dengan jari. Diambilnya baju gaun kecilnya waktu ulang tahun ke-12. Yang ia dapat hadiah dari puskesmas. Gaun merah itu sudah sempit di badan anjani. Gaun itu menggantung 3 cm dari lutut anjani. Anjani akan tumbuh dewasa. Usianya akan segera 14 tahun. Dia menengok ke kanan dan kiri, matanya tak lepas dari cermin ¼ retak itu. Di lihat dirinya manis berbalut gaun merah, bertitik-titik putih, dan pita putih di pinggangnya. Di ambilnya selehai pita jingga dan dia balutkan di kepalanya dan diikat diatasnya. Anjani begitu manis. Ia tersenyum tak sabar iningin segera ayahnya pulang. Senyumnya begitu manis, terlukiskan 2 pasang guratan di pipinya saat dia tersenyum.
____________________________
Pukul 16.00. anjani mengaduk gelas kaca berisi the kesukaan ayah. Seperti hari-hari sebelumnya. Rumahnya sunyi menyisakan suara denting sendok beradu gelas kaca. Anjani tak sabar ingin segera pergi ke pasar. Gaunnya sudah ia kenakan, pita jingganya terbalut cantik di kepalanya. Rambutnya yang pendek tersisir rapih. Sampai pukul 16.15, ayah belum juga sampai. Suara langkahnya pun tak kunjung terdengar. Kemana ayah? Anjani menatap jam geratisannya. Matanya tak lepas dari jam itu. Jarum detik, menit dan jam, berus berlari berputar seraya menertawakan anjani yang resah menunggu kedatangan ayahnya. Kaki anjani mengetuk-ngetuk lantai rumahnya. Anjani sudah tidak sabar.
Jam menunjukkan pukul 17.00. ayah belum juga datang. Anjani masih melihat ke jam. Ketukan kakinya semakin keras. “Anjani sudah tidak sabar. Mengapa ayah masih juga telat”, bisiknya. Anjani menghela nafas panjang. Di tatapnya pintu hijau bobrok. Tapi keadaan tak kunjung berubah masih seperti pukul 16.00 lalu. Anjani masih saja menunggu. Kucing yang biasanya datang pun tak datang hari ini. anjani memanyunkan bibirnya. Perasaannya kesal, kenapa ayah membuat nya menunggu di waktu yang ingin segera ia lewati.
Rumahnya benar-benar tidak bersuara. Anjani sudah kelelahan mengetuk-ketuk kakinya dengan lantai. Di pandangnya gelas the ayahnya. Air teh untuk ayah masih juga utuh. Airnya tenang, karena tak tersentuh. Di pandangnya kembali jam gratisan di sudut rumahnya. Kini jarum-jarum itu menunjukan pukul 18.25. hamper maghrib. Ayah tak kunjung datang. Warna langit menggoda anjani, menunjukkan warna gelapnya. “ayah diamana?” bisik anjani.
Anjani lelah menunggu. Apa lagi peutnya membuatnya semakin risik karena menjerit-jerit minta makan. Anjani sengaja tidak makan siang tadi, karena ingin mengosongkan pertunya agar penuh di pasar nanti. anjani duduk di lantai rumahnya. di sandarkan kepalanya ke dinding tripleks rumahnya. perutnya terus menafsirkan laparnya. Kian gemuruh, anjani tak tahan lagi. Ia sudah benar-benar lapar. Anjani pun tertidur.
Anjani terbangun di tengah malam. Jam gratisan menunjukkan pukul 24.03. pucat bibir anjani. Lemas matanya menatap. Di tengoknya gelas ayahnya, air teh untuk ayah masih juga tenang. Tak bergerak, tak berkurang. Anjani pun tertidur lagi.
Anjani bertemu dengan pagi. Jam gratisan menunjukkan pukul 7.09 ayahnya belum juga datang. Air tehnya masih juga tenang. Baju gaun mengatungnya kusut. Terbawa tidurnya. Anjani membuka pintu hijau bobrok dirumahnya. Di tengoknya arah biasa ayah pulang. Tak juga datang sang ayah. Kucing yang selalu menemaninya pun tak datang. Rumah itu sepi, sunyi, tak meninggalkan satu suara pun.
Anjani bertemu lagi dengan pagi. Masih dengan gaun merah bertitik putih dan pita jingganya. Ayah belum juga datang. Air teh ayah masih juga tenang tak tersentuh.
Datang tiga ekor kupu-kupu hitam di rumah anjani. Bertamu di rumah anjani. Berterbangan di ruang tamu anjani. Menghisap the buatan anjani.
Ayah anjani tak kunjung pulang.
Sabtu, 06 Maret 2010
seperti di tanah sumatra
hari ini aku harus ke sekolah jam 8 pagi, dan akan pulang jam 11. tepat pukul 11 kegiatan ku disekolah selesai, dan untuk menghabiskan waktu aku bermain dengan teman ku Dwina, Dinda, Cynthia dan lainnya. aku bermain dengan mereka, membicarakan hal lucu yang pernah terjadi. tapi tidak tau kenapa fikiran ku ingin segera pulang. ingin segera sampai dirumah, ingin cepat menghirup aroma wangi rumah ku.
setelah Dzuhur aku pulang ke rumah, diperjalanan aku memikirkan rumah--rumah--dan hanya rumah. entah mengapa tiba-tiba aku berhayal ada dirumah ku sendiri. setiap hari aku di rumah, bahkan bisa seharian penuh aku hanya di rumah.
sesampainya di depan rumah ku, aku rasanya ingin berlari menyentuh jejeran besi yang dicat putih yang memagari rumah ku. tidak masuk akal, aku hanya berdiri sekitar 1,8 meter dari depan pager rumah ku, tapi kenapa aku mau berlari menyentuhnya. tapi dengan bodohnya aku melakukan itu, aku berlari menyentuh pagar.
ku geser pagar rumah ku, entah kenapa dengan sangat tidak sabar. aku masuk dan kembali berlari menghampiri pintu kayu rumah ku. padahal itu jarak yang dekat tapi aku ingin berlari. aku buka pintu rumah ku.
tercuim aroma paling surgawi yang pernah melintas di hidung ku. hidung ku mengendus berkali-kali menikmati wangi hangat yang seperti mengingatkan aku suatu tempat yang begitu dingin. aku terus berjalan lurus, terus berjalan hingga menghampiri meja makan rumah ku. tak salah fikir ku sedari tadi. di meja makan ku tertata rapih makuk-mangkuk dan piring-piring menyajikan sumber wangi surgawi tadi. di pojok kiri tergenang sayur daun singkong dengan kuah yang dibuat dari santan kental, piring itu berasap aromanya menggelitik saluran pernafasan ku. mengalir hingga membuat rasa ngilu di tenggorokan ku.
di sebelahnya makuk kecil yang menampung tenang cabai hijau yang sudah di tumbuk, bersama dengan minyak kuning habis menggorengnya.
mata ku masih melirik kagum akan pemandangan meja makan siang ini. di bawah sambal hijau khas rumah padang itu sebuah dendok setengah tenggelam diantara air santan kuning yang bercampur orange, ku angkat sendok itu dan yang ku lihat potongan-potongan sayur nangka yang berasap harum. dan ternyata penyiksaan terhadap hidung ku belum berakhir adanya ayam gulai membuat ku marah! makanan padang apa ini tanpa keripik singkong.
pertama aku mengenal keripik singkong saat aku pulang sampung ke kepahiang, disana aku disajikan keripik singkong yang dibalado sampai warnanya benar-benar merah.
aku segera mengambil piring, aku ambil segumpal nasi dari rice cooker dan dalam hitungan detik pemilihan lauk selesai. aku mengambil satu potong ayam bagian dada yang memiliki tulang rawan, satu potong sayur nangka beserta sayur kacang panjangnya, tak lupa aku sirami nasi ku dengan kuah-kuahnya. menuju mangkuk berikutnya aku ambil sayur daun singkong yang mengagumkan. dan ku ambil sesendok teh sambal hijau. stelah aku cuci tangan aku melahap makan siang ku. saat seru makan aku melihat kotak putih dengan tutup merah jambu di meja makan, karena wdahnya bening aku melihat isinya berupa kerupuk kulit dan keripik singkong balado. Ala Inang.. Ini baru yang namanya Surga Dunia. Makanan kampung ku di sumatra barat. aku terus melahap dengan semangat makan siang ku itu, ku potek-potek bagian ayam dan sayr nangka. tanpa sedok dan garpu. jari ku berubah jadi kuning karena berulang kali memegang kuah dari santan. haah! mantap sekali. sesekali aku menambahkan kuah dari sayur nangka. subhanallah gurihnya bukan kepalang. keringat ku menggumpal sebesar bulir jagung di pelipis ku. sesekali menetes melintasi hidung dan dagu ku. berulang kali aku menarik cairan yang hampir luntur di hudung ku. aku benar-benar ingat saat aku makan di sumatra barat, kampung ku. dimana aku makan makanan yang pedasnya bagai makan cabai dari neraka ditambah tidak adanya kulkas di daerah itu yang menyebabkan aku harus minum air hangat dilam keadaan lidah terbakar. dan kini aku mnikmatinya di rumah ku.
Jumat, 22 Januari 2010
Berawal Dari Biskuitnya Berayun Ke Aktornya
Jum’at, 22 January 2010
Kamis kemarin tidak ada kelas di sekolahku. Tapi kami tetap masuk untuk mengahdiri acara sekolah yaitu Liga SMA KORPRI Bekasi di Patal Bekasi. Aku, memei, dan dinda sudah memperkirakan kami akan dipulangkan kurang dari pukul 12.00 maka kami merencanakan untuk pergi nonton Sherlock Holmes yang baru-baru ini meluncur di Metropolitan Mall. Ini akan jadi kali pertama aku jalan-jalan dengan teman SMA ku.
Pagi-pagi pukul 06.35 aku berangkat ke patal untuk menyaksikan pertandungan bola antara XII IA 2 dan XI IA 2. Dan dilanjutkan dengan pertandingan merebutkan gelar juara ke-3 antara kelas XII IA 2 dan X 4. Sesampainya aku di patal tidak kunjung ku lihat wajah dinda dan memei, nampaknya mereka tak ingin menunggu lama di patal yang becek dan banyak ilalang ini maka mereka berangkat mepet waktu. Setelah 20 menit aku menunggu mereka aku melihat mereka dari kejauhan gerbang patal dengan di bonceng abang ojek. Dendam sekali rasanya menunggu mereka cukup lama berteman lumpur-lumpur lembek basah karena tanahnya terkena hujan.
Pertandingan berjalan amat seru dan sedikit membosankan. Membosankan karena aku tak mengerti sama sekali apa yang menarik di pertandingan bola. Diantara kami bertiga hanya dinda yang mengerti dan asik sendiri celingukan mencari celah untuk melihat kemana bola yang basah karena lumpur itu bergulir. Aku dan memei malahan sibuk sendiri. Aku sibuk main rubiks milik naufal temanku dan memei sibuk melihat majalah yang tertera gambar Super Juniornya. Yang katanya semua gadis memujanya, mungkin kecuali aku. Karena mereka punya potongan rambut yang panjang dan terlihat seperti black forrest.
Riuh gemuruh tepuk tangan penonton dan pemain bola memecah lamunanku atas rubiks yang tak kunjung aku satukan warnanya. Aku tak sabar ingin tinggalkan lapangan ini, sepatu ku sudah tak indah warna hitam bertutup warna coklat tanah basah yang mengering di sepatu ku. “ayo muleh din!” ajakku penuh semangat. “ah.. masa pulang ke rumah? Males.. ke rumah memei aja yuk mee.. kita makan-makan bikin apaan gitu..!” tawar dinda. Akhirnya aku dan memei pun setuju atas saran dinda. Akhirnya kami ke alfa mart untuk belanja jajanan yang akan kami beli. Kami berniat akan minum root beer seperti yang di AW. Maka kami mengambil Root Beer merk AW dan makanan-makanan kecil. Es krimnya akan kami beli di alfa dekat rumah memei saja. Sesampainya di rumah memei kita makan semua jajanan biscuit, permen dan semuanya habis. Kecuali biscuit togo rasa coklat, karena kami merasa kenyang dan sudah kembung pula kami tak melanjutkan makan-makan gila kami.
Seperti yang dilakukan wanita kebanyakan di saat berkumpul. Ya.. membicarakan kaum adam. Dinda dan memei mebicarakan kekasih mereka yang ada jauh disana. Memei yang baru putus hanya menceritakan keburukan mantan kekasihnya itu. Sedangkan dinda memamerkan kejawaan kekasihnya Anggara yang sering di rindukannya. Sedang aku tak angkat bicara masalah kekasih. Jujur saja aku belum pernah memiliki kekasih sepanjang 15 tahun ini. aku lebih mementingkan film kartun ku dan artis-artis idola ku kebanding dengan mencari kekasih. Lagi pula ayah dan ibu ku melarangku untuk mempunyai kekasih di usia 15 ini. mungkin akan terlalu mengganggu belajarku. Ya.. itulah alibi mereka. Tapi aku sadar itu benar.
Pembicaraan kami seru, diwarnai tawa dengan membayangkan tingkah konyol pria-pria tampan yang terkadang terlihat bodoh. Aku dan dinda yang berselera pria-pria yang berwajah sedikit mas-mas jawa memuji kaka kelas yang kami sebut em-em-jes. Itu singkatan dari mas mas jawa sekali. Ya terkadang pria jawa yang berkulit sawo matang terlihat manis dan sangat sopan. Sedangkan memei memuji pria-pria korea yang aku rasa aneh dengan potongan rambutnya.
Sesampainya aku ingin jujur dengan mereka. “din. Sebenernya sesukanya gue sama em-em-jes ada yang gue teramat.. amat suka.bahkan beleh lo bilang aneh kalau gue suka sama dia dari umur 4 tahun jalan 5 tahun. Waktu TK, dan sampai detik ini namanya masih asri nan merdu di kupingku. “ kata ku dengan wajah agak malu karena aku akhirnya memecahkan rahasiaku pada teman baikku. Dan itu baru kali ini aku cerita tentang kekagumanku pada yang satu ini.
“siapa za?” Tanya dinda menatap ku heran. Karena jarang sekali aku agak memerah saat membicarakan kaum adam. “RIZA OREO” kataku sambil langsung mengambil handphone ku untuk mengalihkan betapa merahnya wajahku. Memei dan dinda saling melirik dan menggeleng kecil “za.. dia tuh dulu temen gue..” kata dinda penuh rasa yakin dan aku yakin aka nada jalan dan celah untukku, untuk bisa berinteraksi dengan idolaku yang sudah seperti dewa di hatiku.
Aku menceritakkan pada dinda mengenai awal pertama kali aku suka dengannya. Waktu aku TK aku melihat iklan oreo yang di bintangi dengen Muhammad Dwiky Riza. Aku suka sekali wataknya yang selalujadi anak sok tau, bawe, gendut, tapi cerdas. Setiap ada iklannya aku berlari kecil ke ruang TV untuk melihat wajah menariknya. Tanpa sepengeahuan ibuku bahwa sebenarnya aku ingin tersenyumsenyum kalau melihat wajah imut nan lucunya itu. Terkadang setelah melihat wajah lucu dan cara bicaranya yang sok tau itu aku langsung masuk kamar dan meredam wajah merah ku di bantal. Tak tertahankan untuk selalu tersenyum lebar karena kehadirannya di layar kaca.
Setelah lama tak aku lihat wajahnya dia bermain di film Kiamat Sudah Dekat. Dia memerankan peran Saprol anak yang bawel dan cerdas. Tapi pandai mengaji. Aku tau benar eksistensinya di film tak terlalu mencuat tetapi sekali dia bermain di suatu film pasti film itu yang terbaik untukku saat itu. Dia memang tidak terlalu tampan tapi karismatik. Gambaran dia anak yang cerdas sangat berbayang pada wajahnya yang awet muda. Rasanya seperti mendapat haidah saat bisa melihat wajahnya.
Sampai detik ini aku masih mengidolakan dia. Kalau di kantin sekolah aku beli Oreo aku suka tersenyum merah padam karena ingat dengan dia. Teman-temanku hanya tersenyum senyum menggoda mendengar penjelasanku mengenai si bintang Oreo itu.
Senin, 04 Januari 2010
Pesona Kawasan Pilar Kuning
Senin, 4 Januari 2010
Senin kemarin aku menghabiskan waktu liburanku di rumah sepupuku. Aku biasa memanggilnya Mba Karina. Ini bukan kali pertama aku menginap dirumahnya. Dari aku SD aku sering menghabiskan waktu untuk menginap dirumahnya. Di keluarga besar ayahku, saudara perempuan yang berusia dekat dengan aku hanya kaka ku dan mba karina. Itulah sebab aku sering menghabiskan waktu untuk menginap dirumahnya.
Dia berusia 4 tahun diatas usia ku. Dan 3 tahun diatas usia kaka ku. Dia anak tunggal dikeluarganya. Dia pun jarang main dirumah. Suatu ketika saat aku menginap dirumahnya untuk menghabisakan liburan kenaikan kelas ku dia membeli mainan Monopoli. Niatnya untuk dimainkan bersama aku dan kaka ku. Kami memainkan monopoli itu dari pagi sampai malam. Meskipun hanya berputar-putar di papan karton itu tapi kami sangat menikmati permainan yang begelut dengan keuangan itu. Diantara kami bertiga aku lah yang paling banyak hutang dengan bank atau dengan kaka ku, bahkan juga dengan mba karina. Karena aku yang paling kecil diantara kami. Aku lah yang paling payah mengatur keuangan di permainan ini.
Pernah saat kami bermain aku dibuali kaka ku. Dia membiarkan aku membeli banyak Villa dibagian afrika . Bahkan dia pinjamkan uangnya untuk aku membeli pelabuhan. Awalnya aku senang bukan kepalang. Aku jadi yang paling tajiir diantara kaka – kaka ku itu. Aku tak sadar aku dipermainkan saat itu. Tiba-tiba saja kaka ku menagih uangnya untuk segera dikembalikan. Tapi bagaimana aku mengembalikannya. Tak ada yang melintas di Negara afrika tempat vila-vila ku berdiri. Akhirnya kaka ku mengidekan “sudah gadaikan saja villa-villa mu dan pelabuhan ku untukku, dari pada hutang. Bisa ditagih di akherat kelak”. Kata kaka ku, dengan ekspressi meledek. Aku paham sekali dia terkadang licik, ditambah lagi kemampuan berhitungnya taidak lagi diragukan. “baiklah” kata ku menunjukkan persetujuan. Ku jual villa-villa ku dan pelabuhan ku pada kaka ku. Awalnya tangan ku lah yang paling beruntung mengeluarkan angka-angka beruntung dari kedua dadu yang meluncur dari miniature ember itu. Sayangnya kepercayaan kalau tangan ku itu beruntung tak membuatku menang. Villa-villa ku habis ku jual, pelabuhan ku juga habis ku jual , uang ku habis untuk membayar ke bank, di tambah lagi aku harus masuk penjara dan tidak diperizinkan jalan selama 3 putaran. Musnah lah sudah mendapat uang dari start. “ aahhh.. sudah aku ga mau main lagi laah.. sudah habis uangku dibuat bayar hutang, sudah ga bisa aku andalkan villa-villa dan pelabuhanku”. Kataku dengan jurus wajah memelas, dengan modal anak paling kecil aku minta dikasihani agar dikeluarkan dari penjara. “ga bisa. Harus main. Sabar aja Cuma 3 puteran, nanti puteran ke empat bisa jalan lagi. Terus dapet duit deh dari start”. Kata mbak karina membujuk aku agar tetap bermain. “yaah.. zaza lagi yang bangkrut, eehh.. kaka kakanya jangan di bohongin adiknya!” kata papah uki, paman ku. Dia ayah dari mba karina yang sering mengajak aku menginap dirumahnya. Aku meneruskan permainan dengan wajah ditekuk dan mengocok dadu penuh dendam. Sesekali aku melirik ke kaka ku dan berkata dalam hati kali ini akulah yang curang untukmu. Aku sering di suruh untuk mengambil dadu gilirannya yang terlempar jauh. Selalu aku yang disuruh, meskipun dadu itu dibelakang punggung kaka ku tetap harus aku yang mengambil dadu itu. Saat aku akan mengambil dadunya aku perhitungkan dulu langkahnya agar masuk penjara setelah aku tau hitungannya aku putar bentuk dadunya hingga menunjukkan jumlah agar dia masuk penjara. 7 kali aku lakukan kecurangan itu cukup buat aku balas dendam atas bangkrutnya perusahaan – perusahaan bohogan ku karenanya.
Sekarang kami sudah tidak terlalu sering main monopoli. Dulu jika aku menginap 7 hari di rumah mba karina selama 7 hari itu lah aku main monopoli. Tapi sekarang tidak, terkadang kami hanya ngobrol membicarakan sekolah kami, artis – artis idola kami yang biasanya kaum adam, atau nonton DVD. Ayah mba karina yang aku panggil papa uki jarang dapat libur di hari libur mba karina maka dari itu ia suka mengajak aku nginap dirumahnya dan bermain dengan mba karina. Tak mungkin aku tolak tawaran itu aku pasti mau. Walau di bodohi terus dengan monopoli picisan itu tetap saja lebih baik dari pada main bekel di rumah ku.
Pagi ini hari senin tanggal 28 desember 2009. Mba karina menawarkan aku dan kaka ku untuk menemaninya mengantarkan ibunya yang aku panggil mama elly untuk ke stasiun kereta yang adanya di kampusnya. Mba karina adalah mahasiswi Universitas Indonesia. Jika aku menemaninya mengantar mama elly pasti aku bisa melintas di kampus yang didominasi warna kuning itu. Jalan menuju kampus UI sepi tak banyak orang lewat di jalan ini, karena mahasiswa disini sedang libur dan akan mulai masuk bulan februari yang akan datang. Mama elly turun tepat di pemberhentian kereta api kaka ku, aku, mba karina dan mobil yang dikendarainya berbelok kearah parkiran mobil.
Aku tidak nggeh. Aku ada di kampus idaman. Dulu aku pernah mampir ke sini. Saat ayah ku mau menunjukkan fakultas tehniknya di Universitas Indonesia ini. tapi sudah banyak berubah. Warna kuning kini semakin menggila pohon-pohon pun tumbuh lebat di pinggiran jalan. Tapi sekarang danaunyasudah tidak semurni yang dulu. Sudah banyak orang-orang menghiasi pinggir danau dengan posisi jongkok, menjulurkan tangannya sambil memegang kayu kecil seperti pancingan. Ya.. mereka sedang memancing ikan sambil menambah ornamen-ornamen sampah di danau itu.
Ini lebih dari surge penuh harapan. Tapi juga penuh do’a. aku selalu berdo’a agar bisa mengaku Yes.. We’re The Yellow Jacket seperti yang bisa ayah ku akui. Di luar pinggir danau ada susunan batu bata di susun merata dan tertuliskan UNIVERSITAS INDONESIA. Gagahnya bukan kepalang. Bukn hanya itu. Fakultas Hukum berdiri gagah di depan. Dulu abangku yang biasa ku paggil Abang Dadik pernah berpesan agar aku masuk UI. Dan aku bisa mencium adakah aroma ku di kampus itu. Bila ada aroma ku di kampus itu ada lah rejeki untukku mengecap pendidikan di kampus penuh harapan dan doa itu. Saat aku keluar dari mobil aku mengendus-enduskan hidungku keluar. Aku mencari aroma ku di sana. Aku malah bingung, aroma yang seperti apa aku ini? yang aku cium adalah bau asap motor tapi aku merasa nyaman dengan pemandangan ini. tak jauh dari suasana SMA ku yang banyak pepohonan yang rimbun dan di dominasi warna kuning. Hatiku bergumam kecil ya Allah ku tau kuasamu maha besar, ku mohon agar hamba bisa melanjutkan sekolah ku setelah SMA di kampus ini. terlihat ada motor bebek berbaris mengelilingi pohon besar lucunya orang-orang yg duduk di atas motor-motor itu mengenakan helm yang sama. Ya.. helm warna kuning. Halte-halte nya pun berpilar kuning pula. Dan speda pun tak mau kalah, sepeda yang di bariskan di sana berwarna kuning pula. Aku ingin menjadi seorang dokter, sangaaat ingin.. apa lagi di kawasan pilar kuning ini. banyak orang bilang amat susah untuk menjadi calon dokter dari kampus ini. tapi aku akan bersusah-susah belajar sekarang untuk melengkapi harapan ku berdiri di sini.