Sabtu, 06 Maret 2010

seperti di tanah sumatra

Sabtu, 19 Februari 2010

hari ini aku harus ke sekolah jam 8 pagi, dan akan pulang jam 11. tepat pukul 11 kegiatan ku disekolah selesai, dan untuk menghabiskan waktu aku bermain dengan teman ku Dwina, Dinda, Cynthia dan lainnya. aku bermain dengan mereka, membicarakan hal lucu yang pernah terjadi. tapi tidak tau kenapa fikiran ku ingin segera pulang. ingin segera sampai dirumah, ingin cepat menghirup aroma wangi rumah ku.
setelah Dzuhur aku pulang ke rumah, diperjalanan aku memikirkan rumah--rumah--dan hanya rumah. entah mengapa tiba-tiba aku berhayal ada dirumah ku sendiri. setiap hari aku di rumah, bahkan bisa seharian penuh aku hanya di rumah.
sesampainya di depan rumah ku, aku rasanya ingin berlari menyentuh jejeran besi yang dicat putih yang memagari rumah ku. tidak masuk akal, aku hanya berdiri sekitar 1,8 meter dari depan pager rumah ku, tapi kenapa aku mau berlari menyentuhnya. tapi dengan bodohnya aku melakukan itu, aku berlari menyentuh pagar.
ku geser pagar rumah ku, entah kenapa dengan sangat tidak sabar. aku masuk dan kembali berlari menghampiri pintu kayu rumah ku. padahal itu jarak yang dekat tapi aku ingin berlari. aku buka pintu rumah ku.
tercuim aroma paling surgawi yang pernah melintas di hidung ku. hidung ku mengendus berkali-kali menikmati wangi hangat yang seperti mengingatkan aku suatu tempat yang begitu dingin. aku terus berjalan lurus, terus berjalan hingga menghampiri meja makan rumah ku. tak salah fikir ku sedari tadi. di meja makan ku tertata rapih makuk-mangkuk dan piring-piring menyajikan sumber wangi surgawi tadi. di pojok kiri tergenang sayur daun singkong dengan kuah yang dibuat dari santan kental, piring itu berasap aromanya menggelitik saluran pernafasan ku. mengalir hingga membuat rasa ngilu di tenggorokan ku.
di sebelahnya makuk kecil yang menampung tenang cabai hijau yang sudah di tumbuk, bersama dengan minyak kuning habis menggorengnya.
mata ku masih melirik kagum akan pemandangan meja makan siang ini. di bawah sambal hijau khas rumah padang itu sebuah dendok setengah tenggelam diantara air santan kuning yang bercampur orange, ku angkat sendok itu dan yang ku lihat potongan-potongan sayur nangka yang berasap harum. dan ternyata penyiksaan terhadap hidung ku belum berakhir adanya ayam gulai membuat ku marah! makanan padang apa ini tanpa keripik singkong.
pertama aku mengenal keripik singkong saat aku pulang sampung ke kepahiang, disana aku disajikan keripik singkong yang dibalado sampai warnanya benar-benar merah.
aku segera mengambil piring, aku ambil segumpal nasi dari rice cooker dan dalam hitungan detik pemilihan lauk selesai. aku mengambil satu potong ayam bagian dada yang memiliki tulang rawan, satu potong sayur nangka beserta sayur kacang panjangnya, tak lupa aku sirami nasi ku dengan kuah-kuahnya. menuju mangkuk berikutnya aku ambil sayur daun singkong yang mengagumkan. dan ku ambil sesendok teh sambal hijau. stelah aku cuci tangan aku melahap makan siang ku. saat seru makan aku melihat kotak putih dengan tutup merah jambu di meja makan, karena wdahnya bening aku melihat isinya berupa kerupuk kulit dan keripik singkong balado. Ala Inang.. Ini baru yang namanya Surga Dunia. Makanan kampung ku di sumatra barat. aku terus melahap dengan semangat makan siang ku itu, ku potek-potek bagian ayam dan sayr nangka. tanpa sedok dan garpu. jari ku berubah jadi kuning karena berulang kali memegang kuah dari santan. haah! mantap sekali. sesekali aku menambahkan kuah dari sayur nangka. subhanallah gurihnya bukan kepalang. keringat ku menggumpal sebesar bulir jagung di pelipis ku. sesekali menetes melintasi hidung dan dagu ku. berulang kali aku menarik cairan yang hampir luntur di hudung ku. aku benar-benar ingat saat aku makan di sumatra barat, kampung ku. dimana aku makan makanan yang pedasnya bagai makan cabai dari neraka ditambah tidak adanya kulkas di daerah itu yang menyebabkan aku harus minum air hangat dilam keadaan lidah terbakar. dan kini aku mnikmatinya di rumah ku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar