Begitu sunyi suasana rumah ini. hanya tersisa dentingan sendok beradu gelas kaca. Anjani yang mengaduk teh di cangkir ayahnya. Pandangannya tak lepas dari pintu hijau bobrok yang dimiliki keluarganya dari tahun 1997. Pukul 16.15 adalah waktu cemas untuk Anjani. Waktu inilah yang menentukan ayahnya akan pulang atau tidak. Di liriknya jam gratisan dari supermarket menunjukan pukul 16.12. tiga menit lagi.
Sampai akhirnya jam usang itu menunjukkan pukul 16.15 dan bergeser sekali ke pukul 16.16. terdengar suara sandal swalow bergesekan dengan tanah. Itu ayah. Dari suara berjalannya, salah satu kaki ayah terluka. Pasti hari ini ayah habis babak belur dipukuli pereman di kereta. “Jani!! Jani!!”.teriak ayah dari balik pintu. Anjani hanya menatap ayahnya seolah tak heran. Ayah pun masuk dan duduk di bangku dalam rumah. Anjani pun menutup hati-hati pintu bobrok itu, khawatir akan lepas dari engselnya.
3 lalat hitam berterbangan diatas dengkul ayah yang terluka. Anjani mengusir lalat-lalat itu, dan meneteskan betadine ke luka ayah. “ayah kalah lagi?” Tanya anjani takut. Ayah mengusap keningnya yang menampung keringat. “tidak, hari ini ayah lari.. lari kencang sekali. Melebihi laju kereta api. Haha.. puas ayah”. Bibir keringnya tersenyum dan terlihat bibirnya pecah-pecah. Wajah anjani masih juga penuh cemas. Di ulurkannya gelas berisi teh hangat ke ayah. “hari ini ayah boleh komentar rasanya manis atau tidak”. Kata anjani diakhiri dengan senyumannya. “haaah.. ada yang aneh dengan teh ini. apa kamu memasukan sehelai kelopak melati kedalamnya, ayah mencium aroma harum melati”. Kata ayah menutup matanya dan terus mendekati hidungnya dengan ujung cangkir teh itu. Anjani hanya tersenyum menyaksikan laku ayahnya mengendus-endus aroma dari ujung cangkir.
Anjani melihat bakul ayah, yang ayah pakai untuk menjual rokok, permen, tisu, dan minuman. Hanya tersisa satu bungkus tisu merk paseo hijau yang tergeletak malang. “hari ini bersisa satu tisu yah?” Tanya anjani. Ayah hanya mengagguk seraya tak sanggup bicara karena asik minum teh yang harum itu. “aaahh.. alhamdulilah, nikmat sekali teh mu ini jani..” kata ayah sambil mengusap bibirnya yang celemotan dengan teh tadi. “ayah mandi dulu ya” kata ayah dan bergegas ke kamar mandi.
Anjani duduk, duduk di bangku yang hampir patah. Kerena kayunya sudah di makan rayap. Dalam hatinya berdo’a agar ayahnya bisa pulang lagi esok hari. Anajani hanya perempuan kecil, yang tidak sekolah dan tidak punya ibu. Sehari-hari ia hanya dirumah. Masak untuk ayahnya, membuat teh untuk ayahnya, menyuci bajunya dan ayahnya. Sungguh pilu nasibnya. Dulunya anjani ikut dengan ayahnya berdagang di kereta menjajahkan tisu, permen, rokok, dan air minum. Namun ternyata populasi pereman di kereta itu semakin hari semakin ramai. Ayahnya khawatir anjani celaka, dan kini anjani hanya diam dirumah. Usianya baru 13 tahun, tapi kegiatannya selayaknya wanita yang sudah berumah tangga.
----------------------------------------------------------
Keesokan harinya, pukul 15.00. setelah selesai mengangkat jemuran dari belakang rumah, anjani bergegas ke dapur rumahnya. Tiba-tiba bunyi kelontang kelanting seperti reruntuhan membahana dari dapur itu. Anjani menoleh kearah pintu depan rumah, didapatinya kayu-kayu penyanggah atap rumah reotnya berjatuhan. Anjani berlari kecil ke ruang tamu, bangku yang telah rontok dimakan rayap-rayap rakus itu patah. Sebisa tangan kurusnya anjani menyisihkan kayu-kayu yang berjatuhan itu. Anjani hanya ingin menyelamatkan gelas ayahnya. Itu saja. Tangannya tak juga menjangkau gelas itu, khawatir akan pecah anjani menginjak salah satu kayu besar yang paling dekat dengan lututnya.
Anjani kecil masih juga meraih-raih gelas itu. Sampai kerinngatnya yang hangat itu, menghujani pelipis dan wajahnya. Juga leher dan punggungnya. Sampailah tangan anjani meraih gagang gelas itu. Kakinya yang bertumpu pada kayu balok kurus yang dari tadi bergerak-gerak karena anjani. Kayu rongsok itu tiba-tiba berguling ke depan dan mengarahkan wajah anjani pada kayu di depannya. Kayu yang dipenuhi paku. “aduh, jangan jatuh.. jangan jatuh..” bisik anjani kecil. Anjani menggeser lututnya yang bertupu pada kayu ke belakang supaya lututnya bertumpu di lantai. Perlahan-lahan ia pindah lututnya. Berhasil dan ajani pun duduk bersandar pada dinding sembari menaruh lelah dari tubuhnya.
Keringatnya masih juga mengucur deras. Nafasnya begitu cepat karena lelah, anjani membuka mulutnya untuk mendapat udara lebih. Setiap anjani membuka mulut masuklah rasa asin dari keringatnya. gaun lusuh yang anjani pakai begitu lepek basah dengan keringatnya. warna biru gaun lusuhnya menjelma menjadi biru tua karena air keringat asin yang mengucur di pori-pori anjani. Rambutnya basah karena keringat. Ini sudah tidak bisa menunggu lagi, sebentar lagi ayah akan pulang dan harus sudah ada teh. Terasa ruang tamu begitu terang, anjani melihat keatas ternyata atap rumahnya sudah habis. Menyisahkan 8 rusuk kayu penyanggah. Sesekali terlihat kayu-kayu anyaman atap rumahnya berkibar-kibar tertiup angin.
Ini sudah tidak bisa menunggu lagi, 16.15 ayah pulang. Gelas ayah masih kosong, dan masih bau teh kemarin sore. Anjani bergegas ke dapur, ditemani kucing coklat kampung yang setiap hari menemani anjani. Anjani mengambil air dari belakang rumahnya, di ember-ember gembel yang menampung air dari sumur. Diambilnya sampai setengah panci, dimasukannya serbuk teh. Anjani kecil menjulurkan tangannya yang memegang korek api ke sumbu kompor. Kucing kampung itu mengeong-ngeong kelaparan. Anjani melemparkan nasi sisa kemarin malam. Nasi basi dari beras murahan. Kucing itu langsung menghampiri nasi basi itu dan memakannya hingga habis. Anjani mengelus-elus kepala kucing itu. Kucing itu menyandarkan kepalanya ke paha anjani yang bersimpuh lutut disamping kucing itu. Si kucing menjulurkan kepalanya ke paha anjani begitu manja.
Asik anjani bermain dengan kucing itu, terdengar bunyi sssssshhhhhhhuuuuuuuuusssshuhhhhuhssssssssssssss.. dari belakang punggung anjani. Anjani masih juga bermanja-manja dengan kucing itu. Sampai tetesan air the mendidih menyentuh kakinya. “aaw.. panas”. Kata anjani dan langsung menoleh kebelakang. Air teh untuk ayah telah mendidih dan meluap keluar menghadang tutup panci. Anjani mengelus kucing itu dan berbalik mengangkat panci itu. Anjani menunangkan air teh yang masih mendidih itu ke gelas ayah. Anjani mengisi seper delapan gelas, untuk sisanya di isi air putih agar tidak terlalu panas.
Kucing itu masih mencari serpihan-serpihan nasi basi yang diberi anjani. Anjani menuangkan sisa serbuk tehnya kedalam wadah untuk dimasak lagi besok. Didapatinya panci itu dengan bagian belakangnya hangus. Warna putihnya berubah hitam. Anjani melihat dirinya dari hitam-hitam panci itu. Dilihatnya anjani yang usang, wajah memelas lebih memelas dari kucing lapar tadi. Garis-garis halus di bawah kelopak matanya tampak jelas, keringat bercucuran di pelipis dan lehernya berjahutan seirama. Keringat sebesar bulir jagung menggupal diatas bibir bisunya. “aku begitu usang” kata anjani pelan dan melirik ke arah kucing.
Anjani mencuci panci itu dan menggosok bagian belakangnya hingga terlihat lagi warna putihnya. Nampaknya panci itu sudah semakin tipis. Setiap hari anjani gosok dengan batu untuk menghilangkan hitamnya. Anjani mengambil gelas ayahnya dan mengambil gula. “cukup 2 sendok” kata anjani bermonolog. Kucing di sebelah kakinya menciumi kaki anjani berharap diberi lagi segumpal nasi basi.
Ditengoknya jam di sudut ruang tamunya. Ternyata sedikit tertutup runtuhan kayu dari atap. Anjani mengambil sendok kecil dari dapur rumahnya. Dapur yang begitu terang, karena memiliki cerita yang sama dengan ruang tamunya. Ruang itu begitu sunyi, sema seperti hari-hari biasanya. Hanya ada denting sendok besi beradu dengan gelas kaca. Anjani mengaduk tehnya untuk bercampur dengan gula. Anjani duduk disalah satu kayu yang runtuh di ruang tamunya. Sambil melihat ke pintu hijau bobrok rumahnya. Anjani melihat kesudut rumahnya, celingak-celinguk kearah jam gratisan dari supermarket itu. Terlihat jarum panjangnya menunjuk ke angka 2. Pertanda 5 menit lagi. Ayah pulang atau tidak. Bibir anjani berbisik pelan. Pelan sekali. Sampai-sampai bisa dikalahkan dengan suara sehelai rambut yang jatuh kelantai.
“ayah harus pulang.. ayah harus pulang.. ayah harus pulang” tangan aanjani sambil mengelus-elus sayang punggung kucing kampung itu. Belum juga terdengar suara orang menyeret sebelah kakinya karena terluka. Dan yang terdengar hanya suara sendal dari karet yang terdengar masih baru beradu dengan tanah bercampur kerikil. Suara sandal itu berganti dengan suara laki-laki tua, suaranya seperti terpendam dengan kumis-kumis lebat. Orang dibalik pintu itu minta dibuka kan pintu. Anjani takut, itu bukan suara ayah pulang. Tak ada kaki yang diseret. Tapi suara laki-laki itu…
Orang itu mendobrak pintu hijau reot. Tanpa hati-hati, dan terbuka pintu rumah itu. Dilihatnya anjani menggengam gelas kaca, gelas kaca itu digenggam anjani begitu erat. Ternyata suara itu benar. Suara ayah. Tapi mengapa kaki ayah tidak terluka hari ini? “ayah. Atap rumah runtuh, semunya runtuh, menyisakan 8 rusuk kayu diatas ayah atap anyamannya juga sudah hancur sekarang ruang tamu kita bolong jadi begitu terang bagaimana kalau hujan ayah tidak mungkin kita berdua kehujanan didalam rumah” kata anjani cepat tanpa mengambil nafas, ayahnya masih diam mematung didepan pintu. “jangan khawatir jani, dua hari belakangan ini dagangan ayah lumayan laris. Hari ini ayah menyisakan 1 permen. Tisu yang kemarin sudah laku terjual. Juga barang-barang yang baru tadi pagi ayah ambil” sambat ayahnya. Anjani hanya berbalas senyum, sambil menjulurkan gelas kepada ayahnya.
“jani.. sini nak.. ayah mau bicarakan sesuatu.” Kata ayahnya sambil mengayunkan tangannya memerintah kepada anjani unutuk mendekat. Anjani menghampiri ayahnya. Ayahnya terlihat begitu kumal. Bajunya yang berwarna biru muda jeans berlumuran keringat asin, dan noda-noda kecoklatan. Rambut ayah pun begitu basah, karena panas tertutup topi seharian.
“jani, besok jani ulang tahun kan..?, besok ayah akan ajak anjani pergi ke pasar depan. Kita bisa makan enak dan anjani bisa beli baju baru. Besok pulang ayah berjualan jani pakai baju yang cantik ya” kata ayahnya sembari merapihkan rambut anjani yang kusut. Anjani hanya mengangguk dan tersenyum. Batin anjani senang bukan kepalang. Batinnya bagai berjingkrakan. Pasar, makanan, dan baju baru.. bagai kabar dari surga untuk anjani.
___________________________________
Pagi ini. anjani duduk di depan rumah untuk mengantar ayahnya bekerja. “jani.. ayah berangkat ya.. jangan kamu tingkah nakal ya di rumah, nanti sore kita ke pasar”. Kaya ayahnya menyisakan senyum lembutnya di balik serangkaian kumis lebatnya. Di ciumnya kening anjani. Dipeluknya tubuh anjani. Kecang begitu erat, sampai membuat anjani merasa sesak, tidak bisa bergerak, namun anjani tak berupaya apapun. “ayah pergi ya nak”. Mengakhiri pelukannya untuk anjani. Ayah pergi memunggungi rumah yang bolong ruang tengahnya, dan anjani di depan pintu. Suara sandal ayah yang beradu dengan batu-batu kecil gemercit terdengar jelas. Lama-lama samar-samar dan hilang. Tinggal anjani sendiri mematung melihat langkah ayahnya.
Siangnya, anjani masuk ke kamarnya berdiri di depan cermin ¼ retak. Anjani menunjukkan senyum manisnya ke kaca itu. Dia berputar, melihat kesamping, menyisir rambutnya dengan jari. Diambilnya baju gaun kecilnya waktu ulang tahun ke-12. Yang ia dapat hadiah dari puskesmas. Gaun merah itu sudah sempit di badan anjani. Gaun itu menggantung 3 cm dari lutut anjani. Anjani akan tumbuh dewasa. Usianya akan segera 14 tahun. Dia menengok ke kanan dan kiri, matanya tak lepas dari cermin ¼ retak itu. Di lihat dirinya manis berbalut gaun merah, bertitik-titik putih, dan pita putih di pinggangnya. Di ambilnya selehai pita jingga dan dia balutkan di kepalanya dan diikat diatasnya. Anjani begitu manis. Ia tersenyum tak sabar iningin segera ayahnya pulang. Senyumnya begitu manis, terlukiskan 2 pasang guratan di pipinya saat dia tersenyum.
____________________________
Pukul 16.00. anjani mengaduk gelas kaca berisi the kesukaan ayah. Seperti hari-hari sebelumnya. Rumahnya sunyi menyisakan suara denting sendok beradu gelas kaca. Anjani tak sabar ingin segera pergi ke pasar. Gaunnya sudah ia kenakan, pita jingganya terbalut cantik di kepalanya. Rambutnya yang pendek tersisir rapih. Sampai pukul 16.15, ayah belum juga sampai. Suara langkahnya pun tak kunjung terdengar. Kemana ayah? Anjani menatap jam geratisannya. Matanya tak lepas dari jam itu. Jarum detik, menit dan jam, berus berlari berputar seraya menertawakan anjani yang resah menunggu kedatangan ayahnya. Kaki anjani mengetuk-ngetuk lantai rumahnya. Anjani sudah tidak sabar.
Jam menunjukkan pukul 17.00. ayah belum juga datang. Anjani masih melihat ke jam. Ketukan kakinya semakin keras. “Anjani sudah tidak sabar. Mengapa ayah masih juga telat”, bisiknya. Anjani menghela nafas panjang. Di tatapnya pintu hijau bobrok. Tapi keadaan tak kunjung berubah masih seperti pukul 16.00 lalu. Anjani masih saja menunggu. Kucing yang biasanya datang pun tak datang hari ini. anjani memanyunkan bibirnya. Perasaannya kesal, kenapa ayah membuat nya menunggu di waktu yang ingin segera ia lewati.
Rumahnya benar-benar tidak bersuara. Anjani sudah kelelahan mengetuk-ketuk kakinya dengan lantai. Di pandangnya gelas the ayahnya. Air teh untuk ayah masih juga utuh. Airnya tenang, karena tak tersentuh. Di pandangnya kembali jam gratisan di sudut rumahnya. Kini jarum-jarum itu menunjukan pukul 18.25. hamper maghrib. Ayah tak kunjung datang. Warna langit menggoda anjani, menunjukkan warna gelapnya. “ayah diamana?” bisik anjani.
Anjani lelah menunggu. Apa lagi peutnya membuatnya semakin risik karena menjerit-jerit minta makan. Anjani sengaja tidak makan siang tadi, karena ingin mengosongkan pertunya agar penuh di pasar nanti. anjani duduk di lantai rumahnya. di sandarkan kepalanya ke dinding tripleks rumahnya. perutnya terus menafsirkan laparnya. Kian gemuruh, anjani tak tahan lagi. Ia sudah benar-benar lapar. Anjani pun tertidur.
Anjani terbangun di tengah malam. Jam gratisan menunjukkan pukul 24.03. pucat bibir anjani. Lemas matanya menatap. Di tengoknya gelas ayahnya, air teh untuk ayah masih juga tenang. Tak bergerak, tak berkurang. Anjani pun tertidur lagi.
Anjani bertemu dengan pagi. Jam gratisan menunjukkan pukul 7.09 ayahnya belum juga datang. Air tehnya masih juga tenang. Baju gaun mengatungnya kusut. Terbawa tidurnya. Anjani membuka pintu hijau bobrok dirumahnya. Di tengoknya arah biasa ayah pulang. Tak juga datang sang ayah. Kucing yang selalu menemaninya pun tak datang. Rumah itu sepi, sunyi, tak meninggalkan satu suara pun.
Anjani bertemu lagi dengan pagi. Masih dengan gaun merah bertitik putih dan pita jingganya. Ayah belum juga datang. Air teh ayah masih juga tenang tak tersentuh.
Datang tiga ekor kupu-kupu hitam di rumah anjani. Bertamu di rumah anjani. Berterbangan di ruang tamu anjani. Menghisap the buatan anjani.
Ayah anjani tak kunjung pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar