Kamis, 15 April 2010

Yang Kiri Untuk Pangkat Ayah

Pagi-pagi sekali ibu menyiapkan makan pagi untuk keluarga Khaidir. Keluarga Khaidir adalah keluarga harmonis dan hidup berkecukupan. Keluarga ini mempunyai satu orang anak laki-laki yang berusia 8 tahun. Bapak Khaidir yang seorang Jendral bersikap sangat tegas dengan keluarganya, dia pun memperlakukan anaknya dengan tegas seperti jabatanan jendral yang beliau lakoni di tempat kerjanya.
Pagi ini keluarga Khaidir akan bersiap memulai kegiatan mereka masing-masing. Keluarga ini tidak ingin melewati kesempatan makan pagi bersama di ruang makan keluarga ini, keluarga ini sangat merindukan perkumpulan keluarga karena bapak Khaidir sering kali pergi berdinas dalam waktu yang tidak sebentar.
Dua hari yang lalu bapak Khaidir mendapati naik pangkat. beliau menyimpan rapi pangkat barunya itu di atas rak tempat pajangan-pajangan di tata rapi. Pangkat itu begitu elok di pandang mata. Bila ada matahari cahaya matahari berpantulan dengan benda emas nan gagah itu.
Kali ini bapak Khaidir ingin pergi ke kantornya, masih dengan perasaan bangga atas kenaikan pangkatnya. Sebelum berangkat hari ini beliau menatap kagum ke pangkat barunya, di usapnya pangkat itu sembari menyisihkan debu-debu halus yang menempel di pangkatnya.
Setelah selesai makan pagi, bapak Khaidir bergegas untuk pergi ke kantornya. Di cuimnya kening ibu. Di ulurkannya tangan besarnya ke arah raji anaknya dan dibisikannya dengan suara beratnya “jangan nakal ya nak..” suara beratnya yang di rendahkan terdengar seperti kerumunan lebah. Raji hanya mengangguk kecil. Dan di usapnya rambut 2 cm raji. Setelah berpamitan ayah segera membalikkan badannya, di punggunginya tas loreng miliknya. Ayah berbaju hijau loreng disertai dengan baret hijau. Ketuk sepatunya dengan lantai menghantarnya meninggalkan rumah. Bunyinya semakin menghilang-menghilang dan tidak lagi terdengar. Bagi raji kali ini senyum ayah sangat berbeda dari senyum biasanya. Sangat berbeda dengan perawakannya sebagai jendral.
Hari ini Raji libur sekolah, karena para guru sedang merapatkan ujian nasional untuk siswa kelas 6. Sehingga murid-murid di liburkan sementara waktu. Seperti biasanya raji senang menghabisakan waktu bersama lego-legonya. Dia selalu sibuk sendiri dengan legonya. Dia selalu mengidolakan lautan. Cita-citanya ingin menjadi seorang mariner, dari lego-lego nya dia bangun sebuah marcusuar putih nan gagah. “apa ya yang kurang?? Harusnya ada gambar jangkar nya.” Kata Raji yang sibuk berdialog sendiri. Dia menengok ke kanan dan kiri, apa yang bisa ia ambil untuk melengkapi marcusuar rancangannya? Dia melihat ke arah rak pajangan ibu, ada satu benda yang menarik pengelihatannya. Sebuah benda dengan lempeng kuning, terlihat cahaya matahari berpantulan dengan benda elok itu. Raji tertarik dengan benda itu, ia berniat menjadikan benda itu sebagai lambang marinirnya.
Raji menghampiri rak itu, dia menjulurkan tangan kurusnya ke arah benda itu. Namun dia tidak bisa mnjangkaunya. Benda itu terlalu tinggi untuknya. Raji berupaya melompat-lompat untuk meraih benda itu. Dia terus melompat-lompat untuk meraih benda itu. Dan Hop! Raji menyentuh ujung benda itu, tapi benda itu belum dia raih. Sayangnya Raji hanya merubah arah hadap benda itu. Dia menengok kanan kiri fikirnya adakah benda yang dapat membantunya meraih benda itu? Kanan, kiri ia tengok dan di sisi kanan dia melihat sebuah kemoceng yang bulu-bulunya tertiup angin siang hari. Tanpa fikir panjang dia mengambil kemoceng itu dan kembali menjulurkan tangannya ke atas untuk meraih benda tersebut. Dia terus berlompatan meraih benda itu.
Dan tiba-tiba saja “DUK!” benda itu terjatuh, lempengan emas itu jatuh di sebelah jari-jari kaki kecil Raji. Benda itu membentur lantai, saat Raji melihatnya ternyata benda itu sudah dalam bentuk yang berbeda. Benda itu hancur. Dengan cepat raji berlutut dan membereskan serpihan benda itu. Dia kebingungan bagaimana mengutuhkannya kembali? Sampai berkeringat Raji memunguti serpihan benda itu, keringatnya membentuk gumpalan kecil seperti buliran jagung di pelipisnya. Dia menggaruk kepalanya seraya kebingungan.
Waktu terus berjalan, seolah tanpa member toleransi pada Raji. Tiba-tiba terdengar suara berat yang tegas dari balik pintu. Ibu yang sedang asik dengan rajutannya menengok ke arah pintu. “Assalamualaikum!” kata orang di balik pintu. Ibu melihat raji dan segera bergegas menghampiri pintu dan membukanya. Raji tidak perduli dengan suara itu, ia masih menyibukkan diri dengan benda yang ia hancurkan. “Ayah! Walaikumsalam. Tumben cepet yah..” kata ibu dengan suara lembutnya. Dari kejauhan Raji mendengar percakapan dua suara yang berbeda, yang satu sangat halus yang satu benar-benar terdengar berat dan tegas. Keringat raji yang menggumpal di pelipisnya semakin menebal sesekali jatuh melintasi hidung dan dagunya. “Raji mana bu?” kata ayah. “lagi main yah..” balas ibu sekenanya. Dan langsung pergi ke kamar menyelesaikan jahitannya.
Di ruang tengah raji masih sibuk dengan serpihan benda itu. Dan ayah pun menghampiri Raji yang sedang duduk bersimpuh lutut. Sesekali Raji menundukan tubuh kurus kecilnya dan mengulurkan tangnnya ke kolong-kolong rak untuk mencari masih adakah serpihannya di bawah sana. “Ji! Lagi apa?” Tanya ayah dengan suara beratnya yang di halus-haluskan. Raji hanya diam sambil berupaya menutupi benda itu dari pandangan ayah. Dan raji kembali duduk bersimpuh lutut untuk membenahi pecahan benda tersebut. Dan ayah pun melihat pangkatnya hacur lebur di tangan Raji.
Tanpa berfikir lagi ayah langsung mencengkram erat pudak kurus raji yang basah karena keringat. Sampai leher bajunya turun sampai pundaknya. Di cengkramnya sampai bergetar karena saking kuatnya. Raji menunduk tak berani melihat wajah ayahnya. Raji terisak-isak kecil menangis. Dengan suara lantang ayah berkata. “RAJI! APA KAMU TIDAK TAU BAGAIMANA AYAH MEMPEROLEH BENDA INI? KENAPA KAMU HANCURKAN PANGKAT AYAH NAAK??!! DASAR ANAK NAKAL!” kata ayah. Nampaknya kalimat ini sudah lebih dari ketus. Membuat mata Raji tak sanggup lagi membendung air matanya. Kelopak matanya bergetar dan tak lama kemudian air matanya mengucur begitu deras.
Raji menempelkan keningnya di lutut ayahnya yang duduk berlutut di sampingnya yang masih mencengkram pundak Raji. Dengan terisak-isak raji berucap kecil dari bibir mungilnya “ maafkan aku ayah. Aku tidak sengaja,..” kata Raji. Keringat Raji mengucur deras menyatu bersama air matanya yang semakin heboh mengalir melintasi hidung, dan dagunya. Bajunya basah dan lepek karena menyerap air-air keringat dan mata Raji. “AYAH DAPATKAN INI DENGAN SUSAH PAYAH! KAMU TAU???!” nada bicara ayah semakin mengeras dan semakin marah. Raji terus menangisi perbuatannya. Tubuhnya masih bergetar karena takut dan merasa bersalah.
Dengan tega ayah memuluki tangan Raji dengan gagang sapu. Raji pun menjerit-jerit-jerit kesakitan sesekali ia menyembunyikan tangan kirinya di antara perut dan punggungnya tapi tetap saja terasa sakit. “Ayah.. maafkan aku ayah. Tangan ku sakit ayah.. tangan ku sakit.. jangan pukul lagi ayah. Aku ga akan nakal lagi ayah.. tangan ku sakit ayah..” dengan malangnya Raji memohon pada ayahnya, namun jeritan itu tak kunjung meredam kemarahan ayahnya. “ANAK NAKAL! AYAH KURUNG KAMU DI GUDANG YA! KAMU ITU PANTAS DI HUKUM TAU?!!” kata ayah. Dan langsung mengangkat tubuh Raji menuju gudang. Raji masih meneriakkan ampun pada ayahnya dan menjerit kesakitan. Tangannya sudah sakit bukan kepalang, sampai-sampai keringat yang melintas di tangannya tidak terasa lagi.
Ayah pun menaruhnya di gudang, dan mengunci gudang dari luar. Di tinggalnya Raji sendiri di gudang. Sedari tadi ibu hanya diam melihat Raji di pukuli ayahnya. “bu, itu Raji kasian di pukuli ayahnya, sekarang di kurung pula. Kasian itu bu tangannya sakit” kata mbok samiah pembantu rumah itu. Dan ibu hanya membalas “ biarkan mbok, dia juga yang nakal. Ayahnya baru pulang sudah buat masalah” Kata ibu. Di dalam Raji terus menjerit-jerit kesakitan, Sampai suaranya serak dia tetap menjerit kesakitan dan menangis “Tolong.. Tolong aku. Tangan kiri ku sakit.. tolong aku.. tangan ku sakiit” suara Raji dari dalam.
Malamnya mbok Samiah tidak lagi mendengar jerit itu. Mbok Samiah menaruh kupingnya ke pintu gudang, seraya menguping apa yang Raji lakukan. Terdengar bisik isak tangis yang berkata “ayah.. maaf.. tolong aku.. tangan ku sakit ayah.. tolong ayah.. maafkan aku.. tolong ayah..” berulang-ulang kali Raji meminta tolong. Mbok samiah yang tersentuh mendengarnya membuka pintu gudang, dan didapatinya tangan kiri Raji berdarah dan membengkak. Jemarinya tak lagi kecil seperti sebelumnya. Di pegangnya tubuh Raji yang lepek basah karena keringat dan air mata. Bajunya berwarna lebih tua dari sebelum ia menangis, warnanya menjadi lebih tua karena menyerap air mata. Mbok Samiah merangkul tubuh Raji yang masih juga gemetar. Raji pun masih membisikkan permohonan tolong dari bibir kecilnya. Semaki sulit ia berkata karena terus mengisak-isak. Mbok Samiah menyuapkan makan malam kepada Raji yang sedari tadi belum makan dari siang. Setelah itu mbok Samiah kembali mengunci pintu gudang.
Paginya Mbok Samiah melaporkan pada ibu, “bu, Raji kasian bu. Tangannya berdarah, memar. Dia nangis semalaman minta maaf sama ayahnya”. Sata Mbok Samiah penuh prihatin. “Haduh.. bi.. saya juga pusing, dia tuh nakal terus” balas ibu menganggap sepele perkataan Mbok Samiah.
Malam Ini suara Raji tidak lagi terdengar membisik minta tolong. Dan Mbok Samiah memeriksa keadaan Raji di Dalam. Didapatinya Raji yang tertidur dengan tangan memar dan tubuh yang panas tinggi, bibirnya membiru. Mbok Samiah segera memberitau ibu “Bu, Raji badannya panas, tangannya memar pula bu.” Kata Mbok Samiah dengan nada panik. “Ah.. paling Cuma masuk angin mbok..” balas ibu sekenanya. Mbok Samiah mencari pertolongan dari ayah setelah mendapat anggapan remeh dari ibu. Mbok Samiah memberitau pada ayah keadaan Raji di dalam gudang.
Dengan segera ayah membawa Raji ke rumah sakit, sampai di rumah sakit Raji ditangani seorang dokter. Setelah satu jam pengobatan, kemudian pria berjubah putih itu keluar dari ruangannya. Pria itu bertutur bahwa luka Raji terlambat di tangani dan membusuk, sehingga dokter memutuskan untuk mengamputasi tangan Raji. Mendengar kalimat dokter itu ayah begitu menyesal. Ia menutup matanya yang menampung air mata yang terbendung di kelopak matanya. Dengan langkah lamban dia menghampiri Raji yang sedang tertidur memandangi tangannya yang tertutup perban putih.
“Ayah! Ayah! Ayah! Sini ayah!, Aku mau minta maaf ayah.. Peluk aku Ayah!!!” kata Raji dengan amat senang. Ayah menghampirinya dan memeluknya erat-erat. Air mata ayah mengucur begitu deras, dan terjatuh ke punggung Raji. “ Kata dokternya, tadi aku kesini di gendong ayah, ayah tadi peluk aku. Ayah maafkan aku ya..” dengan senangnya ia tuturkan kalimat itu. “Ayah sudah maafkan kamu nak, ayah yang harusnya minta maaf sama kamu nak..” kata ayah sambil menangis, dan berupaya menghentikan kucuran air matanya. “benar ayah sudah maaf kan aku.. asiiik” Senyumnya semakin lebar di peluknya kembali ayahnya sambil berkata riang. “asik ayah sudah maaf kan aku”, kalimat itu semakin membuat ayah menyesal. Dan Tak lelah-lelahnya Raji berkata, “ Ayah.. ayah benar sudah maafkan aku kan, kalau sudah maafkan aku, tolong kembalikan tangan kiri ku ayah..”.

16.15

Begitu sunyi suasana rumah ini. hanya tersisa dentingan sendok beradu gelas kaca. Anjani yang mengaduk teh di cangkir ayahnya. Pandangannya tak lepas dari pintu hijau bobrok yang dimiliki keluarganya dari tahun 1997. Pukul 16.15 adalah waktu cemas untuk Anjani. Waktu inilah yang menentukan ayahnya akan pulang atau tidak. Di liriknya jam gratisan dari supermarket menunjukan pukul 16.12. tiga menit lagi.

Sampai akhirnya jam usang itu menunjukkan pukul 16.15 dan bergeser sekali ke pukul 16.16. terdengar suara sandal swalow bergesekan dengan tanah. Itu ayah. Dari suara berjalannya, salah satu kaki ayah terluka. Pasti hari ini ayah habis babak belur dipukuli pereman di kereta. “Jani!! Jani!!”.teriak ayah dari balik pintu. Anjani hanya menatap ayahnya seolah tak heran. Ayah pun masuk dan duduk di bangku dalam rumah. Anjani pun menutup hati-hati pintu bobrok itu, khawatir akan lepas dari engselnya.

3 lalat hitam berterbangan diatas dengkul ayah yang terluka. Anjani mengusir lalat-lalat itu, dan meneteskan betadine ke luka ayah. “ayah kalah lagi?” Tanya anjani takut. Ayah mengusap keningnya yang menampung keringat. “tidak, hari ini ayah lari.. lari kencang sekali. Melebihi laju kereta api. Haha.. puas ayah”. Bibir keringnya tersenyum dan terlihat bibirnya pecah-pecah. Wajah anjani masih juga penuh cemas. Di ulurkannya gelas berisi teh hangat ke ayah. “hari ini ayah boleh komentar rasanya manis atau tidak”. Kata anjani diakhiri dengan senyumannya. “haaah.. ada yang aneh dengan teh ini. apa kamu memasukan sehelai kelopak melati kedalamnya, ayah mencium aroma harum melati”. Kata ayah menutup matanya dan terus mendekati hidungnya dengan ujung cangkir teh itu. Anjani hanya tersenyum menyaksikan laku ayahnya mengendus-endus aroma dari ujung cangkir.

Anjani melihat bakul ayah, yang ayah pakai untuk menjual rokok, permen, tisu, dan minuman. Hanya tersisa satu bungkus tisu merk paseo hijau yang tergeletak malang. “hari ini bersisa satu tisu yah?” Tanya anjani. Ayah hanya mengagguk seraya tak sanggup bicara karena asik minum teh yang harum itu. “aaahh.. alhamdulilah, nikmat sekali teh mu ini jani..” kata ayah sambil mengusap bibirnya yang celemotan dengan teh tadi. “ayah mandi dulu ya” kata ayah dan bergegas ke kamar mandi.

Anjani duduk, duduk di bangku yang hampir patah. Kerena kayunya sudah di makan rayap. Dalam hatinya berdo’a agar ayahnya bisa pulang lagi esok hari. Anajani hanya perempuan kecil, yang tidak sekolah dan tidak punya ibu. Sehari-hari ia hanya dirumah. Masak untuk ayahnya, membuat teh untuk ayahnya, menyuci bajunya dan ayahnya. Sungguh pilu nasibnya. Dulunya anjani ikut dengan ayahnya berdagang di kereta menjajahkan tisu, permen, rokok, dan air minum. Namun ternyata populasi pereman di kereta itu semakin hari semakin ramai. Ayahnya khawatir anjani celaka, dan kini anjani hanya diam dirumah. Usianya baru 13 tahun, tapi kegiatannya selayaknya wanita yang sudah berumah tangga.

----------------------------------------------------------

Keesokan harinya, pukul 15.00. setelah selesai mengangkat jemuran dari belakang rumah, anjani bergegas ke dapur rumahnya. Tiba-tiba bunyi kelontang kelanting seperti reruntuhan membahana dari dapur itu. Anjani menoleh kearah pintu depan rumah, didapatinya kayu-kayu penyanggah atap rumah reotnya berjatuhan. Anjani berlari kecil ke ruang tamu, bangku yang telah rontok dimakan rayap-rayap rakus itu patah. Sebisa tangan kurusnya anjani menyisihkan kayu-kayu yang berjatuhan itu. Anjani hanya ingin menyelamatkan gelas ayahnya. Itu saja. Tangannya tak juga menjangkau gelas itu, khawatir akan pecah anjani menginjak salah satu kayu besar yang paling dekat dengan lututnya.

Anjani kecil masih juga meraih-raih gelas itu. Sampai kerinngatnya yang hangat itu, menghujani pelipis dan wajahnya. Juga leher dan punggungnya. Sampailah tangan anjani meraih gagang gelas itu. Kakinya yang bertumpu pada kayu balok kurus yang dari tadi bergerak-gerak karena anjani. Kayu rongsok itu tiba-tiba berguling ke depan dan mengarahkan wajah anjani pada kayu di depannya. Kayu yang dipenuhi paku. “aduh, jangan jatuh.. jangan jatuh..” bisik anjani kecil. Anjani menggeser lututnya yang bertupu pada kayu ke belakang supaya lututnya bertumpu di lantai. Perlahan-lahan ia pindah lututnya. Berhasil dan ajani pun duduk bersandar pada dinding sembari menaruh lelah dari tubuhnya.

Keringatnya masih juga mengucur deras. Nafasnya begitu cepat karena lelah, anjani membuka mulutnya untuk mendapat udara lebih. Setiap anjani membuka mulut masuklah rasa asin dari keringatnya. gaun lusuh yang anjani pakai begitu lepek basah dengan keringatnya. warna biru gaun lusuhnya menjelma menjadi biru tua karena air keringat asin yang mengucur di pori-pori anjani. Rambutnya basah karena keringat. Ini sudah tidak bisa menunggu lagi, sebentar lagi ayah akan pulang dan harus sudah ada teh. Terasa ruang tamu begitu terang, anjani melihat keatas ternyata atap rumahnya sudah habis. Menyisahkan 8 rusuk kayu penyanggah. Sesekali terlihat kayu-kayu anyaman atap rumahnya berkibar-kibar tertiup angin.

Ini sudah tidak bisa menunggu lagi, 16.15 ayah pulang. Gelas ayah masih kosong, dan masih bau teh kemarin sore. Anjani bergegas ke dapur, ditemani kucing coklat kampung yang setiap hari menemani anjani. Anjani mengambil air dari belakang rumahnya, di ember-ember gembel yang menampung air dari sumur. Diambilnya sampai setengah panci, dimasukannya serbuk teh. Anjani kecil menjulurkan tangannya yang memegang korek api ke sumbu kompor. Kucing kampung itu mengeong-ngeong kelaparan. Anjani melemparkan nasi sisa kemarin malam. Nasi basi dari beras murahan. Kucing itu langsung menghampiri nasi basi itu dan memakannya hingga habis. Anjani mengelus-elus kepala kucing itu. Kucing itu menyandarkan kepalanya ke paha anjani yang bersimpuh lutut disamping kucing itu. Si kucing menjulurkan kepalanya ke paha anjani begitu manja.

Asik anjani bermain dengan kucing itu, terdengar bunyi sssssshhhhhhhuuuuuuuuusssshuhhhhuhssssssssssssss.. dari belakang punggung anjani. Anjani masih juga bermanja-manja dengan kucing itu. Sampai tetesan air the mendidih menyentuh kakinya. “aaw.. panas”. Kata anjani dan langsung menoleh kebelakang. Air teh untuk ayah telah mendidih dan meluap keluar menghadang tutup panci. Anjani mengelus kucing itu dan berbalik mengangkat panci itu. Anjani menunangkan air teh yang masih mendidih itu ke gelas ayah. Anjani mengisi seper delapan gelas, untuk sisanya di isi air putih agar tidak terlalu panas.

Kucing itu masih mencari serpihan-serpihan nasi basi yang diberi anjani. Anjani menuangkan sisa serbuk tehnya kedalam wadah untuk dimasak lagi besok. Didapatinya panci itu dengan bagian belakangnya hangus. Warna putihnya berubah hitam. Anjani melihat dirinya dari hitam-hitam panci itu. Dilihatnya anjani yang usang, wajah memelas lebih memelas dari kucing lapar tadi. Garis-garis halus di bawah kelopak matanya tampak jelas, keringat bercucuran di pelipis dan lehernya berjahutan seirama. Keringat sebesar bulir jagung menggupal diatas bibir bisunya. “aku begitu usang” kata anjani pelan dan melirik ke arah kucing.

Anjani mencuci panci itu dan menggosok bagian belakangnya hingga terlihat lagi warna putihnya. Nampaknya panci itu sudah semakin tipis. Setiap hari anjani gosok dengan batu untuk menghilangkan hitamnya. Anjani mengambil gelas ayahnya dan mengambil gula. “cukup 2 sendok” kata anjani bermonolog. Kucing di sebelah kakinya menciumi kaki anjani berharap diberi lagi segumpal nasi basi.

Ditengoknya jam di sudut ruang tamunya. Ternyata sedikit tertutup runtuhan kayu dari atap. Anjani mengambil sendok kecil dari dapur rumahnya. Dapur yang begitu terang, karena memiliki cerita yang sama dengan ruang tamunya. Ruang itu begitu sunyi, sema seperti hari-hari biasanya. Hanya ada denting sendok besi beradu dengan gelas kaca. Anjani mengaduk tehnya untuk bercampur dengan gula. Anjani duduk disalah satu kayu yang runtuh di ruang tamunya. Sambil melihat ke pintu hijau bobrok rumahnya. Anjani melihat kesudut rumahnya, celingak-celinguk kearah jam gratisan dari supermarket itu. Terlihat jarum panjangnya menunjuk ke angka 2. Pertanda 5 menit lagi. Ayah pulang atau tidak. Bibir anjani berbisik pelan. Pelan sekali. Sampai-sampai bisa dikalahkan dengan suara sehelai rambut yang jatuh kelantai.

“ayah harus pulang.. ayah harus pulang.. ayah harus pulang” tangan aanjani sambil mengelus-elus sayang punggung kucing kampung itu. Belum juga terdengar suara orang menyeret sebelah kakinya karena terluka. Dan yang terdengar hanya suara sendal dari karet yang terdengar masih baru beradu dengan tanah bercampur kerikil. Suara sandal itu berganti dengan suara laki-laki tua, suaranya seperti terpendam dengan kumis-kumis lebat. Orang dibalik pintu itu minta dibuka kan pintu. Anjani takut, itu bukan suara ayah pulang. Tak ada kaki yang diseret. Tapi suara laki-laki itu…

Orang itu mendobrak pintu hijau reot. Tanpa hati-hati, dan terbuka pintu rumah itu. Dilihatnya anjani menggengam gelas kaca, gelas kaca itu digenggam anjani begitu erat. Ternyata suara itu benar. Suara ayah. Tapi mengapa kaki ayah tidak terluka hari ini? “ayah. Atap rumah runtuh, semunya runtuh, menyisakan 8 rusuk kayu diatas ayah atap anyamannya juga sudah hancur sekarang ruang tamu kita bolong jadi begitu terang bagaimana kalau hujan ayah tidak mungkin kita berdua kehujanan didalam rumah” kata anjani cepat tanpa mengambil nafas, ayahnya masih diam mematung didepan pintu. “jangan khawatir jani, dua hari belakangan ini dagangan ayah lumayan laris. Hari ini ayah menyisakan 1 permen. Tisu yang kemarin sudah laku terjual. Juga barang-barang yang baru tadi pagi ayah ambil” sambat ayahnya. Anjani hanya berbalas senyum, sambil menjulurkan gelas kepada ayahnya.

“jani.. sini nak.. ayah mau bicarakan sesuatu.” Kata ayahnya sambil mengayunkan tangannya memerintah kepada anjani unutuk mendekat. Anjani menghampiri ayahnya. Ayahnya terlihat begitu kumal. Bajunya yang berwarna biru muda jeans berlumuran keringat asin, dan noda-noda kecoklatan. Rambut ayah pun begitu basah, karena panas tertutup topi seharian.

“jani, besok jani ulang tahun kan..?, besok ayah akan ajak anjani pergi ke pasar depan. Kita bisa makan enak dan anjani bisa beli baju baru. Besok pulang ayah berjualan jani pakai baju yang cantik ya” kata ayahnya sembari merapihkan rambut anjani yang kusut. Anjani hanya mengangguk dan tersenyum. Batin anjani senang bukan kepalang. Batinnya bagai berjingkrakan. Pasar, makanan, dan baju baru.. bagai kabar dari surga untuk anjani.

­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­___________________________________

Pagi ini. anjani duduk di depan rumah untuk mengantar ayahnya bekerja. “jani.. ayah berangkat ya.. jangan kamu tingkah nakal ya di rumah, nanti sore kita ke pasar”. Kaya ayahnya menyisakan senyum lembutnya di balik serangkaian kumis lebatnya. Di ciumnya kening anjani. Dipeluknya tubuh anjani. Kecang begitu erat, sampai membuat anjani merasa sesak, tidak bisa bergerak, namun anjani tak berupaya apapun. “ayah pergi ya nak”. Mengakhiri pelukannya untuk anjani. Ayah pergi memunggungi rumah yang bolong ruang tengahnya, dan anjani di depan pintu. Suara sandal ayah yang beradu dengan batu-batu kecil gemercit terdengar jelas. Lama-lama samar-samar dan hilang. Tinggal anjani sendiri mematung melihat langkah ayahnya.

Siangnya, anjani masuk ke kamarnya berdiri di depan cermin ¼ retak. Anjani menunjukkan senyum manisnya ke kaca itu. Dia berputar, melihat kesamping, menyisir rambutnya dengan jari. Diambilnya baju gaun kecilnya waktu ulang tahun ke-12. Yang ia dapat hadiah dari puskesmas. Gaun merah itu sudah sempit di badan anjani. Gaun itu menggantung 3 cm dari lutut anjani. Anjani akan tumbuh dewasa. Usianya akan segera 14 tahun. Dia menengok ke kanan dan kiri, matanya tak lepas dari cermin ¼ retak itu. Di lihat dirinya manis berbalut gaun merah, bertitik-titik putih, dan pita putih di pinggangnya. Di ambilnya selehai pita jingga dan dia balutkan di kepalanya dan diikat diatasnya. Anjani begitu manis. Ia tersenyum tak sabar iningin segera ayahnya pulang. Senyumnya begitu manis, terlukiskan 2 pasang guratan di pipinya saat dia tersenyum.

____________________________

Pukul 16.00. anjani mengaduk gelas kaca berisi the kesukaan ayah. Seperti hari-hari sebelumnya. Rumahnya sunyi menyisakan suara denting sendok beradu gelas kaca. Anjani tak sabar ingin segera pergi ke pasar. Gaunnya sudah ia kenakan, pita jingganya terbalut cantik di kepalanya. Rambutnya yang pendek tersisir rapih. Sampai pukul 16.15, ayah belum juga sampai. Suara langkahnya pun tak kunjung terdengar. Kemana ayah? Anjani menatap jam geratisannya. Matanya tak lepas dari jam itu. Jarum detik, menit dan jam, berus berlari berputar seraya menertawakan anjani yang resah menunggu kedatangan ayahnya. Kaki anjani mengetuk-ngetuk lantai rumahnya. Anjani sudah tidak sabar.

Jam menunjukkan pukul 17.00. ayah belum juga datang. Anjani masih melihat ke jam. Ketukan kakinya semakin keras. “Anjani sudah tidak sabar. Mengapa ayah masih juga telat”, bisiknya. Anjani menghela nafas panjang. Di tatapnya pintu hijau bobrok. Tapi keadaan tak kunjung berubah masih seperti pukul 16.00 lalu. Anjani masih saja menunggu. Kucing yang biasanya datang pun tak datang hari ini. anjani memanyunkan bibirnya. Perasaannya kesal, kenapa ayah membuat nya menunggu di waktu yang ingin segera ia lewati.

Rumahnya benar-benar tidak bersuara. Anjani sudah kelelahan mengetuk-ketuk kakinya dengan lantai. Di pandangnya gelas the ayahnya. Air teh untuk ayah masih juga utuh. Airnya tenang, karena tak tersentuh. Di pandangnya kembali jam gratisan di sudut rumahnya. Kini jarum-jarum itu menunjukan pukul 18.25. hamper maghrib. Ayah tak kunjung datang. Warna langit menggoda anjani, menunjukkan warna gelapnya. “ayah diamana?” bisik anjani.

Anjani lelah menunggu. Apa lagi peutnya membuatnya semakin risik karena menjerit-jerit minta makan. Anjani sengaja tidak makan siang tadi, karena ingin mengosongkan pertunya agar penuh di pasar nanti. anjani duduk di lantai rumahnya. di sandarkan kepalanya ke dinding tripleks rumahnya. perutnya terus menafsirkan laparnya. Kian gemuruh, anjani tak tahan lagi. Ia sudah benar-benar lapar. Anjani pun tertidur.

Anjani terbangun di tengah malam. Jam gratisan menunjukkan pukul 24.03. pucat bibir anjani. Lemas matanya menatap. Di tengoknya gelas ayahnya, air teh untuk ayah masih juga tenang. Tak bergerak, tak berkurang. Anjani pun tertidur lagi.

Anjani bertemu dengan pagi. Jam gratisan menunjukkan pukul 7.09 ayahnya belum juga datang. Air tehnya masih juga tenang. Baju gaun mengatungnya kusut. Terbawa tidurnya. Anjani membuka pintu hijau bobrok dirumahnya. Di tengoknya arah biasa ayah pulang. Tak juga datang sang ayah. Kucing yang selalu menemaninya pun tak datang. Rumah itu sepi, sunyi, tak meninggalkan satu suara pun.

Anjani bertemu lagi dengan pagi. Masih dengan gaun merah bertitik putih dan pita jingganya. Ayah belum juga datang. Air teh ayah masih juga tenang tak tersentuh.

Datang tiga ekor kupu-kupu hitam di rumah anjani. Bertamu di rumah anjani. Berterbangan di ruang tamu anjani. Menghisap the buatan anjani.

Ayah anjani tak kunjung pulang.