Kamis, 15 April 2010

Yang Kiri Untuk Pangkat Ayah

Pagi-pagi sekali ibu menyiapkan makan pagi untuk keluarga Khaidir. Keluarga Khaidir adalah keluarga harmonis dan hidup berkecukupan. Keluarga ini mempunyai satu orang anak laki-laki yang berusia 8 tahun. Bapak Khaidir yang seorang Jendral bersikap sangat tegas dengan keluarganya, dia pun memperlakukan anaknya dengan tegas seperti jabatanan jendral yang beliau lakoni di tempat kerjanya.
Pagi ini keluarga Khaidir akan bersiap memulai kegiatan mereka masing-masing. Keluarga ini tidak ingin melewati kesempatan makan pagi bersama di ruang makan keluarga ini, keluarga ini sangat merindukan perkumpulan keluarga karena bapak Khaidir sering kali pergi berdinas dalam waktu yang tidak sebentar.
Dua hari yang lalu bapak Khaidir mendapati naik pangkat. beliau menyimpan rapi pangkat barunya itu di atas rak tempat pajangan-pajangan di tata rapi. Pangkat itu begitu elok di pandang mata. Bila ada matahari cahaya matahari berpantulan dengan benda emas nan gagah itu.
Kali ini bapak Khaidir ingin pergi ke kantornya, masih dengan perasaan bangga atas kenaikan pangkatnya. Sebelum berangkat hari ini beliau menatap kagum ke pangkat barunya, di usapnya pangkat itu sembari menyisihkan debu-debu halus yang menempel di pangkatnya.
Setelah selesai makan pagi, bapak Khaidir bergegas untuk pergi ke kantornya. Di cuimnya kening ibu. Di ulurkannya tangan besarnya ke arah raji anaknya dan dibisikannya dengan suara beratnya “jangan nakal ya nak..” suara beratnya yang di rendahkan terdengar seperti kerumunan lebah. Raji hanya mengangguk kecil. Dan di usapnya rambut 2 cm raji. Setelah berpamitan ayah segera membalikkan badannya, di punggunginya tas loreng miliknya. Ayah berbaju hijau loreng disertai dengan baret hijau. Ketuk sepatunya dengan lantai menghantarnya meninggalkan rumah. Bunyinya semakin menghilang-menghilang dan tidak lagi terdengar. Bagi raji kali ini senyum ayah sangat berbeda dari senyum biasanya. Sangat berbeda dengan perawakannya sebagai jendral.
Hari ini Raji libur sekolah, karena para guru sedang merapatkan ujian nasional untuk siswa kelas 6. Sehingga murid-murid di liburkan sementara waktu. Seperti biasanya raji senang menghabisakan waktu bersama lego-legonya. Dia selalu sibuk sendiri dengan legonya. Dia selalu mengidolakan lautan. Cita-citanya ingin menjadi seorang mariner, dari lego-lego nya dia bangun sebuah marcusuar putih nan gagah. “apa ya yang kurang?? Harusnya ada gambar jangkar nya.” Kata Raji yang sibuk berdialog sendiri. Dia menengok ke kanan dan kiri, apa yang bisa ia ambil untuk melengkapi marcusuar rancangannya? Dia melihat ke arah rak pajangan ibu, ada satu benda yang menarik pengelihatannya. Sebuah benda dengan lempeng kuning, terlihat cahaya matahari berpantulan dengan benda elok itu. Raji tertarik dengan benda itu, ia berniat menjadikan benda itu sebagai lambang marinirnya.
Raji menghampiri rak itu, dia menjulurkan tangan kurusnya ke arah benda itu. Namun dia tidak bisa mnjangkaunya. Benda itu terlalu tinggi untuknya. Raji berupaya melompat-lompat untuk meraih benda itu. Dia terus melompat-lompat untuk meraih benda itu. Dan Hop! Raji menyentuh ujung benda itu, tapi benda itu belum dia raih. Sayangnya Raji hanya merubah arah hadap benda itu. Dia menengok kanan kiri fikirnya adakah benda yang dapat membantunya meraih benda itu? Kanan, kiri ia tengok dan di sisi kanan dia melihat sebuah kemoceng yang bulu-bulunya tertiup angin siang hari. Tanpa fikir panjang dia mengambil kemoceng itu dan kembali menjulurkan tangannya ke atas untuk meraih benda tersebut. Dia terus berlompatan meraih benda itu.
Dan tiba-tiba saja “DUK!” benda itu terjatuh, lempengan emas itu jatuh di sebelah jari-jari kaki kecil Raji. Benda itu membentur lantai, saat Raji melihatnya ternyata benda itu sudah dalam bentuk yang berbeda. Benda itu hancur. Dengan cepat raji berlutut dan membereskan serpihan benda itu. Dia kebingungan bagaimana mengutuhkannya kembali? Sampai berkeringat Raji memunguti serpihan benda itu, keringatnya membentuk gumpalan kecil seperti buliran jagung di pelipisnya. Dia menggaruk kepalanya seraya kebingungan.
Waktu terus berjalan, seolah tanpa member toleransi pada Raji. Tiba-tiba terdengar suara berat yang tegas dari balik pintu. Ibu yang sedang asik dengan rajutannya menengok ke arah pintu. “Assalamualaikum!” kata orang di balik pintu. Ibu melihat raji dan segera bergegas menghampiri pintu dan membukanya. Raji tidak perduli dengan suara itu, ia masih menyibukkan diri dengan benda yang ia hancurkan. “Ayah! Walaikumsalam. Tumben cepet yah..” kata ibu dengan suara lembutnya. Dari kejauhan Raji mendengar percakapan dua suara yang berbeda, yang satu sangat halus yang satu benar-benar terdengar berat dan tegas. Keringat raji yang menggumpal di pelipisnya semakin menebal sesekali jatuh melintasi hidung dan dagunya. “Raji mana bu?” kata ayah. “lagi main yah..” balas ibu sekenanya. Dan langsung pergi ke kamar menyelesaikan jahitannya.
Di ruang tengah raji masih sibuk dengan serpihan benda itu. Dan ayah pun menghampiri Raji yang sedang duduk bersimpuh lutut. Sesekali Raji menundukan tubuh kurus kecilnya dan mengulurkan tangnnya ke kolong-kolong rak untuk mencari masih adakah serpihannya di bawah sana. “Ji! Lagi apa?” Tanya ayah dengan suara beratnya yang di halus-haluskan. Raji hanya diam sambil berupaya menutupi benda itu dari pandangan ayah. Dan raji kembali duduk bersimpuh lutut untuk membenahi pecahan benda tersebut. Dan ayah pun melihat pangkatnya hacur lebur di tangan Raji.
Tanpa berfikir lagi ayah langsung mencengkram erat pudak kurus raji yang basah karena keringat. Sampai leher bajunya turun sampai pundaknya. Di cengkramnya sampai bergetar karena saking kuatnya. Raji menunduk tak berani melihat wajah ayahnya. Raji terisak-isak kecil menangis. Dengan suara lantang ayah berkata. “RAJI! APA KAMU TIDAK TAU BAGAIMANA AYAH MEMPEROLEH BENDA INI? KENAPA KAMU HANCURKAN PANGKAT AYAH NAAK??!! DASAR ANAK NAKAL!” kata ayah. Nampaknya kalimat ini sudah lebih dari ketus. Membuat mata Raji tak sanggup lagi membendung air matanya. Kelopak matanya bergetar dan tak lama kemudian air matanya mengucur begitu deras.
Raji menempelkan keningnya di lutut ayahnya yang duduk berlutut di sampingnya yang masih mencengkram pundak Raji. Dengan terisak-isak raji berucap kecil dari bibir mungilnya “ maafkan aku ayah. Aku tidak sengaja,..” kata Raji. Keringat Raji mengucur deras menyatu bersama air matanya yang semakin heboh mengalir melintasi hidung, dan dagunya. Bajunya basah dan lepek karena menyerap air-air keringat dan mata Raji. “AYAH DAPATKAN INI DENGAN SUSAH PAYAH! KAMU TAU???!” nada bicara ayah semakin mengeras dan semakin marah. Raji terus menangisi perbuatannya. Tubuhnya masih bergetar karena takut dan merasa bersalah.
Dengan tega ayah memuluki tangan Raji dengan gagang sapu. Raji pun menjerit-jerit-jerit kesakitan sesekali ia menyembunyikan tangan kirinya di antara perut dan punggungnya tapi tetap saja terasa sakit. “Ayah.. maafkan aku ayah. Tangan ku sakit ayah.. tangan ku sakit.. jangan pukul lagi ayah. Aku ga akan nakal lagi ayah.. tangan ku sakit ayah..” dengan malangnya Raji memohon pada ayahnya, namun jeritan itu tak kunjung meredam kemarahan ayahnya. “ANAK NAKAL! AYAH KURUNG KAMU DI GUDANG YA! KAMU ITU PANTAS DI HUKUM TAU?!!” kata ayah. Dan langsung mengangkat tubuh Raji menuju gudang. Raji masih meneriakkan ampun pada ayahnya dan menjerit kesakitan. Tangannya sudah sakit bukan kepalang, sampai-sampai keringat yang melintas di tangannya tidak terasa lagi.
Ayah pun menaruhnya di gudang, dan mengunci gudang dari luar. Di tinggalnya Raji sendiri di gudang. Sedari tadi ibu hanya diam melihat Raji di pukuli ayahnya. “bu, itu Raji kasian di pukuli ayahnya, sekarang di kurung pula. Kasian itu bu tangannya sakit” kata mbok samiah pembantu rumah itu. Dan ibu hanya membalas “ biarkan mbok, dia juga yang nakal. Ayahnya baru pulang sudah buat masalah” Kata ibu. Di dalam Raji terus menjerit-jerit kesakitan, Sampai suaranya serak dia tetap menjerit kesakitan dan menangis “Tolong.. Tolong aku. Tangan kiri ku sakit.. tolong aku.. tangan ku sakiit” suara Raji dari dalam.
Malamnya mbok Samiah tidak lagi mendengar jerit itu. Mbok Samiah menaruh kupingnya ke pintu gudang, seraya menguping apa yang Raji lakukan. Terdengar bisik isak tangis yang berkata “ayah.. maaf.. tolong aku.. tangan ku sakit ayah.. tolong ayah.. maafkan aku.. tolong ayah..” berulang-ulang kali Raji meminta tolong. Mbok samiah yang tersentuh mendengarnya membuka pintu gudang, dan didapatinya tangan kiri Raji berdarah dan membengkak. Jemarinya tak lagi kecil seperti sebelumnya. Di pegangnya tubuh Raji yang lepek basah karena keringat dan air mata. Bajunya berwarna lebih tua dari sebelum ia menangis, warnanya menjadi lebih tua karena menyerap air mata. Mbok Samiah merangkul tubuh Raji yang masih juga gemetar. Raji pun masih membisikkan permohonan tolong dari bibir kecilnya. Semaki sulit ia berkata karena terus mengisak-isak. Mbok Samiah menyuapkan makan malam kepada Raji yang sedari tadi belum makan dari siang. Setelah itu mbok Samiah kembali mengunci pintu gudang.
Paginya Mbok Samiah melaporkan pada ibu, “bu, Raji kasian bu. Tangannya berdarah, memar. Dia nangis semalaman minta maaf sama ayahnya”. Sata Mbok Samiah penuh prihatin. “Haduh.. bi.. saya juga pusing, dia tuh nakal terus” balas ibu menganggap sepele perkataan Mbok Samiah.
Malam Ini suara Raji tidak lagi terdengar membisik minta tolong. Dan Mbok Samiah memeriksa keadaan Raji di Dalam. Didapatinya Raji yang tertidur dengan tangan memar dan tubuh yang panas tinggi, bibirnya membiru. Mbok Samiah segera memberitau ibu “Bu, Raji badannya panas, tangannya memar pula bu.” Kata Mbok Samiah dengan nada panik. “Ah.. paling Cuma masuk angin mbok..” balas ibu sekenanya. Mbok Samiah mencari pertolongan dari ayah setelah mendapat anggapan remeh dari ibu. Mbok Samiah memberitau pada ayah keadaan Raji di dalam gudang.
Dengan segera ayah membawa Raji ke rumah sakit, sampai di rumah sakit Raji ditangani seorang dokter. Setelah satu jam pengobatan, kemudian pria berjubah putih itu keluar dari ruangannya. Pria itu bertutur bahwa luka Raji terlambat di tangani dan membusuk, sehingga dokter memutuskan untuk mengamputasi tangan Raji. Mendengar kalimat dokter itu ayah begitu menyesal. Ia menutup matanya yang menampung air mata yang terbendung di kelopak matanya. Dengan langkah lamban dia menghampiri Raji yang sedang tertidur memandangi tangannya yang tertutup perban putih.
“Ayah! Ayah! Ayah! Sini ayah!, Aku mau minta maaf ayah.. Peluk aku Ayah!!!” kata Raji dengan amat senang. Ayah menghampirinya dan memeluknya erat-erat. Air mata ayah mengucur begitu deras, dan terjatuh ke punggung Raji. “ Kata dokternya, tadi aku kesini di gendong ayah, ayah tadi peluk aku. Ayah maafkan aku ya..” dengan senangnya ia tuturkan kalimat itu. “Ayah sudah maafkan kamu nak, ayah yang harusnya minta maaf sama kamu nak..” kata ayah sambil menangis, dan berupaya menghentikan kucuran air matanya. “benar ayah sudah maaf kan aku.. asiiik” Senyumnya semakin lebar di peluknya kembali ayahnya sambil berkata riang. “asik ayah sudah maaf kan aku”, kalimat itu semakin membuat ayah menyesal. Dan Tak lelah-lelahnya Raji berkata, “ Ayah.. ayah benar sudah maafkan aku kan, kalau sudah maafkan aku, tolong kembalikan tangan kiri ku ayah..”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar