Jum’at, 22 January 2010
Kamis kemarin tidak ada kelas di sekolahku. Tapi kami tetap masuk untuk mengahdiri acara sekolah yaitu Liga SMA KORPRI Bekasi di Patal Bekasi. Aku, memei, dan dinda sudah memperkirakan kami akan dipulangkan kurang dari pukul 12.00 maka kami merencanakan untuk pergi nonton Sherlock Holmes yang baru-baru ini meluncur di Metropolitan Mall. Ini akan jadi kali pertama aku jalan-jalan dengan teman SMA ku.
Pagi-pagi pukul 06.35 aku berangkat ke patal untuk menyaksikan pertandungan bola antara XII IA 2 dan XI IA 2. Dan dilanjutkan dengan pertandingan merebutkan gelar juara ke-3 antara kelas XII IA 2 dan X 4. Sesampainya aku di patal tidak kunjung ku lihat wajah dinda dan memei, nampaknya mereka tak ingin menunggu lama di patal yang becek dan banyak ilalang ini maka mereka berangkat mepet waktu. Setelah 20 menit aku menunggu mereka aku melihat mereka dari kejauhan gerbang patal dengan di bonceng abang ojek. Dendam sekali rasanya menunggu mereka cukup lama berteman lumpur-lumpur lembek basah karena tanahnya terkena hujan.
Pertandingan berjalan amat seru dan sedikit membosankan. Membosankan karena aku tak mengerti sama sekali apa yang menarik di pertandingan bola. Diantara kami bertiga hanya dinda yang mengerti dan asik sendiri celingukan mencari celah untuk melihat kemana bola yang basah karena lumpur itu bergulir. Aku dan memei malahan sibuk sendiri. Aku sibuk main rubiks milik naufal temanku dan memei sibuk melihat majalah yang tertera gambar Super Juniornya. Yang katanya semua gadis memujanya, mungkin kecuali aku. Karena mereka punya potongan rambut yang panjang dan terlihat seperti black forrest.
Riuh gemuruh tepuk tangan penonton dan pemain bola memecah lamunanku atas rubiks yang tak kunjung aku satukan warnanya. Aku tak sabar ingin tinggalkan lapangan ini, sepatu ku sudah tak indah warna hitam bertutup warna coklat tanah basah yang mengering di sepatu ku. “ayo muleh din!” ajakku penuh semangat. “ah.. masa pulang ke rumah? Males.. ke rumah memei aja yuk mee.. kita makan-makan bikin apaan gitu..!” tawar dinda. Akhirnya aku dan memei pun setuju atas saran dinda. Akhirnya kami ke alfa mart untuk belanja jajanan yang akan kami beli. Kami berniat akan minum root beer seperti yang di AW. Maka kami mengambil Root Beer merk AW dan makanan-makanan kecil. Es krimnya akan kami beli di alfa dekat rumah memei saja. Sesampainya di rumah memei kita makan semua jajanan biscuit, permen dan semuanya habis. Kecuali biscuit togo rasa coklat, karena kami merasa kenyang dan sudah kembung pula kami tak melanjutkan makan-makan gila kami.
Seperti yang dilakukan wanita kebanyakan di saat berkumpul. Ya.. membicarakan kaum adam. Dinda dan memei mebicarakan kekasih mereka yang ada jauh disana. Memei yang baru putus hanya menceritakan keburukan mantan kekasihnya itu. Sedangkan dinda memamerkan kejawaan kekasihnya Anggara yang sering di rindukannya. Sedang aku tak angkat bicara masalah kekasih. Jujur saja aku belum pernah memiliki kekasih sepanjang 15 tahun ini. aku lebih mementingkan film kartun ku dan artis-artis idola ku kebanding dengan mencari kekasih. Lagi pula ayah dan ibu ku melarangku untuk mempunyai kekasih di usia 15 ini. mungkin akan terlalu mengganggu belajarku. Ya.. itulah alibi mereka. Tapi aku sadar itu benar.
Pembicaraan kami seru, diwarnai tawa dengan membayangkan tingkah konyol pria-pria tampan yang terkadang terlihat bodoh. Aku dan dinda yang berselera pria-pria yang berwajah sedikit mas-mas jawa memuji kaka kelas yang kami sebut em-em-jes. Itu singkatan dari mas mas jawa sekali. Ya terkadang pria jawa yang berkulit sawo matang terlihat manis dan sangat sopan. Sedangkan memei memuji pria-pria korea yang aku rasa aneh dengan potongan rambutnya.
Sesampainya aku ingin jujur dengan mereka. “din. Sebenernya sesukanya gue sama em-em-jes ada yang gue teramat.. amat suka.bahkan beleh lo bilang aneh kalau gue suka sama dia dari umur 4 tahun jalan 5 tahun. Waktu TK, dan sampai detik ini namanya masih asri nan merdu di kupingku. “ kata ku dengan wajah agak malu karena aku akhirnya memecahkan rahasiaku pada teman baikku. Dan itu baru kali ini aku cerita tentang kekagumanku pada yang satu ini.
“siapa za?” Tanya dinda menatap ku heran. Karena jarang sekali aku agak memerah saat membicarakan kaum adam. “RIZA OREO” kataku sambil langsung mengambil handphone ku untuk mengalihkan betapa merahnya wajahku. Memei dan dinda saling melirik dan menggeleng kecil “za.. dia tuh dulu temen gue..” kata dinda penuh rasa yakin dan aku yakin aka nada jalan dan celah untukku, untuk bisa berinteraksi dengan idolaku yang sudah seperti dewa di hatiku.
Aku menceritakkan pada dinda mengenai awal pertama kali aku suka dengannya. Waktu aku TK aku melihat iklan oreo yang di bintangi dengen Muhammad Dwiky Riza. Aku suka sekali wataknya yang selalujadi anak sok tau, bawe, gendut, tapi cerdas. Setiap ada iklannya aku berlari kecil ke ruang TV untuk melihat wajah menariknya. Tanpa sepengeahuan ibuku bahwa sebenarnya aku ingin tersenyumsenyum kalau melihat wajah imut nan lucunya itu. Terkadang setelah melihat wajah lucu dan cara bicaranya yang sok tau itu aku langsung masuk kamar dan meredam wajah merah ku di bantal. Tak tertahankan untuk selalu tersenyum lebar karena kehadirannya di layar kaca.
Setelah lama tak aku lihat wajahnya dia bermain di film Kiamat Sudah Dekat. Dia memerankan peran Saprol anak yang bawel dan cerdas. Tapi pandai mengaji. Aku tau benar eksistensinya di film tak terlalu mencuat tetapi sekali dia bermain di suatu film pasti film itu yang terbaik untukku saat itu. Dia memang tidak terlalu tampan tapi karismatik. Gambaran dia anak yang cerdas sangat berbayang pada wajahnya yang awet muda. Rasanya seperti mendapat haidah saat bisa melihat wajahnya.
Sampai detik ini aku masih mengidolakan dia. Kalau di kantin sekolah aku beli Oreo aku suka tersenyum merah padam karena ingat dengan dia. Teman-temanku hanya tersenyum senyum menggoda mendengar penjelasanku mengenai si bintang Oreo itu.