Senin, 4 Januari 2010
Senin kemarin aku menghabiskan waktu liburanku di rumah sepupuku. Aku biasa memanggilnya Mba Karina. Ini bukan kali pertama aku menginap dirumahnya. Dari aku SD aku sering menghabiskan waktu untuk menginap dirumahnya. Di keluarga besar ayahku, saudara perempuan yang berusia dekat dengan aku hanya kaka ku dan mba karina. Itulah sebab aku sering menghabiskan waktu untuk menginap dirumahnya.
Dia berusia 4 tahun diatas usia ku. Dan 3 tahun diatas usia kaka ku. Dia anak tunggal dikeluarganya. Dia pun jarang main dirumah. Suatu ketika saat aku menginap dirumahnya untuk menghabisakan liburan kenaikan kelas ku dia membeli mainan Monopoli. Niatnya untuk dimainkan bersama aku dan kaka ku. Kami memainkan monopoli itu dari pagi sampai malam. Meskipun hanya berputar-putar di papan karton itu tapi kami sangat menikmati permainan yang begelut dengan keuangan itu. Diantara kami bertiga aku lah yang paling banyak hutang dengan bank atau dengan kaka ku, bahkan juga dengan mba karina. Karena aku yang paling kecil diantara kami. Aku lah yang paling payah mengatur keuangan di permainan ini.
Pernah saat kami bermain aku dibuali kaka ku. Dia membiarkan aku membeli banyak Villa dibagian afrika . Bahkan dia pinjamkan uangnya untuk aku membeli pelabuhan. Awalnya aku senang bukan kepalang. Aku jadi yang paling tajiir diantara kaka – kaka ku itu. Aku tak sadar aku dipermainkan saat itu. Tiba-tiba saja kaka ku menagih uangnya untuk segera dikembalikan. Tapi bagaimana aku mengembalikannya. Tak ada yang melintas di Negara afrika tempat vila-vila ku berdiri. Akhirnya kaka ku mengidekan “sudah gadaikan saja villa-villa mu dan pelabuhan ku untukku, dari pada hutang. Bisa ditagih di akherat kelak”. Kata kaka ku, dengan ekspressi meledek. Aku paham sekali dia terkadang licik, ditambah lagi kemampuan berhitungnya taidak lagi diragukan. “baiklah” kata ku menunjukkan persetujuan. Ku jual villa-villa ku dan pelabuhan ku pada kaka ku. Awalnya tangan ku lah yang paling beruntung mengeluarkan angka-angka beruntung dari kedua dadu yang meluncur dari miniature ember itu. Sayangnya kepercayaan kalau tangan ku itu beruntung tak membuatku menang. Villa-villa ku habis ku jual, pelabuhan ku juga habis ku jual , uang ku habis untuk membayar ke bank, di tambah lagi aku harus masuk penjara dan tidak diperizinkan jalan selama 3 putaran. Musnah lah sudah mendapat uang dari start. “ aahhh.. sudah aku ga mau main lagi laah.. sudah habis uangku dibuat bayar hutang, sudah ga bisa aku andalkan villa-villa dan pelabuhanku”. Kataku dengan jurus wajah memelas, dengan modal anak paling kecil aku minta dikasihani agar dikeluarkan dari penjara. “ga bisa. Harus main. Sabar aja Cuma 3 puteran, nanti puteran ke empat bisa jalan lagi. Terus dapet duit deh dari start”. Kata mbak karina membujuk aku agar tetap bermain. “yaah.. zaza lagi yang bangkrut, eehh.. kaka kakanya jangan di bohongin adiknya!” kata papah uki, paman ku. Dia ayah dari mba karina yang sering mengajak aku menginap dirumahnya. Aku meneruskan permainan dengan wajah ditekuk dan mengocok dadu penuh dendam. Sesekali aku melirik ke kaka ku dan berkata dalam hati kali ini akulah yang curang untukmu. Aku sering di suruh untuk mengambil dadu gilirannya yang terlempar jauh. Selalu aku yang disuruh, meskipun dadu itu dibelakang punggung kaka ku tetap harus aku yang mengambil dadu itu. Saat aku akan mengambil dadunya aku perhitungkan dulu langkahnya agar masuk penjara setelah aku tau hitungannya aku putar bentuk dadunya hingga menunjukkan jumlah agar dia masuk penjara. 7 kali aku lakukan kecurangan itu cukup buat aku balas dendam atas bangkrutnya perusahaan – perusahaan bohogan ku karenanya.
Sekarang kami sudah tidak terlalu sering main monopoli. Dulu jika aku menginap 7 hari di rumah mba karina selama 7 hari itu lah aku main monopoli. Tapi sekarang tidak, terkadang kami hanya ngobrol membicarakan sekolah kami, artis – artis idola kami yang biasanya kaum adam, atau nonton DVD. Ayah mba karina yang aku panggil papa uki jarang dapat libur di hari libur mba karina maka dari itu ia suka mengajak aku nginap dirumahnya dan bermain dengan mba karina. Tak mungkin aku tolak tawaran itu aku pasti mau. Walau di bodohi terus dengan monopoli picisan itu tetap saja lebih baik dari pada main bekel di rumah ku.
Pagi ini hari senin tanggal 28 desember 2009. Mba karina menawarkan aku dan kaka ku untuk menemaninya mengantarkan ibunya yang aku panggil mama elly untuk ke stasiun kereta yang adanya di kampusnya. Mba karina adalah mahasiswi Universitas Indonesia. Jika aku menemaninya mengantar mama elly pasti aku bisa melintas di kampus yang didominasi warna kuning itu. Jalan menuju kampus UI sepi tak banyak orang lewat di jalan ini, karena mahasiswa disini sedang libur dan akan mulai masuk bulan februari yang akan datang. Mama elly turun tepat di pemberhentian kereta api kaka ku, aku, mba karina dan mobil yang dikendarainya berbelok kearah parkiran mobil.
Aku tidak nggeh. Aku ada di kampus idaman. Dulu aku pernah mampir ke sini. Saat ayah ku mau menunjukkan fakultas tehniknya di Universitas Indonesia ini. tapi sudah banyak berubah. Warna kuning kini semakin menggila pohon-pohon pun tumbuh lebat di pinggiran jalan. Tapi sekarang danaunyasudah tidak semurni yang dulu. Sudah banyak orang-orang menghiasi pinggir danau dengan posisi jongkok, menjulurkan tangannya sambil memegang kayu kecil seperti pancingan. Ya.. mereka sedang memancing ikan sambil menambah ornamen-ornamen sampah di danau itu.
Ini lebih dari surge penuh harapan. Tapi juga penuh do’a. aku selalu berdo’a agar bisa mengaku Yes.. We’re The Yellow Jacket seperti yang bisa ayah ku akui. Di luar pinggir danau ada susunan batu bata di susun merata dan tertuliskan UNIVERSITAS INDONESIA. Gagahnya bukan kepalang. Bukn hanya itu. Fakultas Hukum berdiri gagah di depan. Dulu abangku yang biasa ku paggil Abang Dadik pernah berpesan agar aku masuk UI. Dan aku bisa mencium adakah aroma ku di kampus itu. Bila ada aroma ku di kampus itu ada lah rejeki untukku mengecap pendidikan di kampus penuh harapan dan doa itu. Saat aku keluar dari mobil aku mengendus-enduskan hidungku keluar. Aku mencari aroma ku di sana. Aku malah bingung, aroma yang seperti apa aku ini? yang aku cium adalah bau asap motor tapi aku merasa nyaman dengan pemandangan ini. tak jauh dari suasana SMA ku yang banyak pepohonan yang rimbun dan di dominasi warna kuning. Hatiku bergumam kecil ya Allah ku tau kuasamu maha besar, ku mohon agar hamba bisa melanjutkan sekolah ku setelah SMA di kampus ini. terlihat ada motor bebek berbaris mengelilingi pohon besar lucunya orang-orang yg duduk di atas motor-motor itu mengenakan helm yang sama. Ya.. helm warna kuning. Halte-halte nya pun berpilar kuning pula. Dan speda pun tak mau kalah, sepeda yang di bariskan di sana berwarna kuning pula. Aku ingin menjadi seorang dokter, sangaaat ingin.. apa lagi di kawasan pilar kuning ini. banyak orang bilang amat susah untuk menjadi calon dokter dari kampus ini. tapi aku akan bersusah-susah belajar sekarang untuk melengkapi harapan ku berdiri di sini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar