Kreeek.. kreeek,, kreek.. suara kerik pedal sepeda tua bapak maryono menggesek besi. Jalan menanjak semakin menyiksa pedal sepeda yang dipaksa terkayuh. Tubuh kurus kering bapa maryono masih tergumpal-gumpal deras peluh bening di pelipis dan dahinya. Rambutnya tertata rapih. Rambut cepaknya mengkilat berpantulan sinar matahari sore itu. Tas tua gratisan dari pusat pemberdayaan perempuan menyelempang di pundaknya.
Tak ubahnya pak maryono dari hari ke hari. Tubuhnya selalu terbungkuskan baju koko. Harum tubuh bapak maryono khas aroma pria yang akan pergi jum’atan. Peci yang dikenakannya 4 tahun yang lalu berwarna hitam. Tapi kini sudah memudar, tak ada warna hitam di pecinya. Warna hitam bergantikan oranye ke ungu-unguan.
Ciiiiiiiiiiiiiiiit… suara rem bergesekan besi pada pelk roda di sepeda bapak maryono. Speda pa maryono berhenti di depan plang bertuliskan Masjid Al Barqah. Bapak maryono menyenderkan spedanya ke plang itu. Belum sampai langkah bapak maryono di masjid tujuannya seorang anak kecil memanggil keras namanya. Menyerukan kepada temannya “Pa Maryo!!!”. Kemudian serentak segerombolan anak kecil berjilbab dan berkupiah berlari menyerbu langkah bapak maryono. Anak-anak berlomba menjulurkan tangannya. Bapak Maryono menjulurkan tangannya dan akan-anak itu saling berebutan tangan bapak maryono dan menaruh di pipi mereka.
Bapak maryono adalah seorang pengajar di TPA. Bergurau dengan candaan islami bersama anak kecil sudah menjadi santapan sehari-harinya. Hari ini bapak maryono akan menyampaikan materi sejarah islam di masjid Al Barqah. Anak-anak menyimak kisah Umar Bin Khattab dengan saksama. Mata muridnya tak lepas dari wajah bapak maryono yang antusias menyampaikan kisah Umar Bin Khattab. Dengan semangat bapak maryono meggerakkan tubuh kurus dan mimik wajahnya. Bapak maryono berulang kali menempatkan lirikan matanya ke jam dinding yang menempel di dinding masjid. Berulang kali ia melirik ke dinding itu. Pada akhirnya sore sampai pada pukul 16.30. waktunya untuk bapak maryono mengakhiri kisah sahabat nabi tersebut.
Anak-anak membaca surah Al-asr sebagai pengnutup pertemuan hari ini. anak-anaknya dengan semangatnya sampai-sampai menjerit meneriakkan surah Al-Asr. Satu anak laki-laki meneriakkan paling semangat di pojok ruangan. Bapak maryono hanya menunjuk anak tersebut dan mengayunkan telunjuknya ke bawah. Dan anak itu menurut dan merendahkan suaranya. Kebijakan yang dilakukan bapak maryono adalah salah satu cirri khas dari bapak Maryono. Dia tidak perlu membentak atau pun memukul. Hanya dengan gerak tubuhnya anak muridnya akan tau apa yang bapak maryono perintahnkan.
Saat usai membaca surah Al- asr murid-murid kembali memperebutkan tangan bapa maryono untuk menaruh di pipi mereka. Saat melangkah keluar masjid untuk didik di pinggir dan menaruh lelah dari tubuhnya, anak yang tadi menjerit meneriakkan surah Al-asr paling keras menghampirinya “assalamualaikum!” nadanya menantang. “walaikum salam” jawab bapa maryono dengan nada halus. Anak itu melipat tangannya di dadanya. Wajahnya angkuh dengan dagu terangkat. “mengapa bapa suruh saya diam tadi?” kata anak itu. “bapa tidak menyuruh mu diam. Hanya mengurangi ketinggian suara mu.” Balas bapa maryono dengan nada yang sabar. “tapi saya ingin membaca surah Al- Asr dengan semangat, itu saja. “ katanya. Lalu bapa maryono lagi-lagi menjawab dengan sabar “tapi cara mu itu salah, kamu tau suara apa yang seburuk-buruknya? “ anak itu menggeleng masih dengan tangan terlipat dan dagu yang angkuh. “suara yang membentak, suara yang hanya layak untuk seekor keledai” balas bapa maryono tanpa kehilangan kesabaran.
“apa itu dilarang agama?” kata anak itu. “ya” kata bapak maryono. “apa saya tidak boleh mengulanginya lagi?” kata anak itu semakin mengangkuhkan wajahnya. “ya” balas bapa maryono “mengapa bapak bisa mengatakan begitu?” Tanya anak itu kembali. Bapak maryono hanya tersenyum dan menurunkan dagu anak yang mendangakkan dagunya.
Setelah dialog itu, bapak maryono kembali menunggangi sepeda bermerek atlantis yang ia sandarkan di plang masjid itu. Bapak maryono akan segera memulai perjalannya yang akan sangat jauh. Perjalannannya akan berlangsung selama 2 jam, dia akan mengayuh sepeda tuanya selama dua jam. Perjalanan dari kota ke kabupaten yang sangat jauh. Perjalanannya yang jauh dan ilmunya yang di berikan untuk murid-murid tidak mendapatkan balasan upah yang seimbang. Semua dilakukannya hanya untuk beribadah.
Kini bapa maryono telah melepas spedanya untuk dikayuh ke TPA. Tubuhnya sudah terlalu lelah. Namun ilmunya masih teringat di ingatan para santri yang di didiknya dulu.
Bapak maryono duduk termenung di teras rumahnya. sambil mengaduk secangkir teh. Suasana rumahnya begitu hening. Tak terdengar suara orang bicara, tv bersuara. Hanya tertinggal suara denting sendok beradu dengan gelas kaca. Tiba-tiba, pria bermotor dengan nuansa kuning berhenti di hadapannya. Pria itu memberikan kertas putih untuk bapak maryono. Tangan bapak maryono sedikit gemetar menerima surat itu. Bapak maryono membaca surat itu, di surat itu bapak maryono di minta hadir di suatu launching buku islami. Buku karangan Arfan al-Fajr bapak maryono yang sudah sedikit pikun, mencoba mengingat-ingat siapa nama ini. Nampak pernah ia sebut. Bahkan rasanya dia pernah menyebut nama itu berulang-ulang kali.
Bapak maryono memenuhi untuk datang ke undangan itu. Sesampainya ia di tempat itu, dilihatnya dia hanya mengenakan baju koko dan peci yang memudar, dengan celana mengatung, dan sandal jepit, dan tak lupa tas gratisan dari pusat pemberdayaan wanita berdiri mendangak di gedung bersar megah nan gagah. Tiba-tiba, seorang berpakaian dinas keamanan menghampirinya, dan menanyakan maksud kedatangannya. Tubuhnya yang kurus dan membungkuk gemetar saat di tanyakan. “saya hanya memenuhi undangan ini pa”, jawab bapa maryono dengan nada yang sabar. Saat dilihat surat itu tertera tulisan ‘kepada bapak maryono’ pria itu langsung menuntun bapak maryono dan mengajaknya bicara dengan sangat ramah.
Saat bapak maryono menujukkan pandangannya kedalam ruangan, dilihatnya seorang pria gagah mengenakan kupiah bicara semangat di atas mimbar. Bapak maryono duduk di bangku deret paling depan. Setelah disimak, pria itu menyampaikan kisah Umar Bin Khattab. Pria itu menggerakkan tubuhnya dan mimik wajahnya untuk menghayati ceritanya. Bapak maryono pun mengenali gaya bercerita ini. ini gayanya bercerita. Seusai pria itu berkoar koar di mimbar, pria itu menyambut hangat bapak maryono. “assalamualaikum, bapak maryono selaku tamu kehormatan . terimakasih atas keluangan waktu bapa” kata anak itu dengan suaranya yang nan halus. Lalu segerombol anak muda berjilbab dan berkupiah melihat kearah bapa maryono. Bapak maryono yang beranjak dari duduknya, dan berjalan menuju mimbar itu. Belum juga langkah bapak maryono sampai pada mimbar, pria itu dengan segerombolan anak yang berjilbab dan berkupiah tadi menghampirinya menjulurkan tangannya dan memperebutkan tangan bapa maryono.
Pria yang tadi berkoar itu, menyalami bapak maryono terlebih dahulu. “assalamualaikum pa” kata pria itu. “waalaikum salam” kata pa maryono dan menyipitkan matanya mencoba mengenali wajah pria itu. Lalu pria itu melipat tangannya di dada dan mengangkat wajahnya dengan angkuh dan berkata dengan lantang “ mengapa bapa bisa mengatakan begitu?” bapa maryono mulai mengenali pria ini. anak yang meneriakkan surah Al-Asr kini menjelma menjadi pria yang gagah dan lembut. Dilihatnya orang-orang yang memperebutkan tangannya. Mulai dikenalinya wajah muridnya di Masjid Al-Barqah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar